Melahirkan Duniaku
Malam melemparku kembali menggempur lorong waktu. Membawaku pada tahun 2019 awal, gadis berkerudung panjang yang masih duduk di bangku SMA itu meratapi nasib akan kesendiriannya. Meski bergelimang pengalaman dan prestasi di luar sekolah, kesepian adalah harga yang harus dibayar karena fokusnya pada pengetahuan dan pengalaman. Bukan pada kisah percintaan. Memikirkan pasangan pun tidak. Yang terngiang di otaknya hanyalah ilmu, ilmu, dan ilmu. Mumpung masih sendiri dan tidak ada siapapun, pikirnya kala itu. Namun karena keberanian dan kenekatannya bak menjadi nahkoda seorang diri di tengah lautan lepas, kadang ia menemui gelombang pasang yang mengguyur ambisi hidupnya. Konon, di tengah lautan itu, sang gadis meratapi nasibnya lagi dan lagi, melepas kemudi kapal, dan duduk di pinggiran kayu pembatas. Sorotan matanya nanar dan dingin ke arah pantulan bayangan pada gelombang air. Sialnya, begitu banyak amukan peristiwa yang perlahan mengguncang keteguhannya untuk tetap sendiri. Hi...

.jpeg)

