Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Melahirkan Duniaku

Malam melemparku kembali menggempur lorong waktu. Membawaku pada tahun 2019 awal, gadis berkerudung panjang yang masih duduk di bangku SMA itu meratapi nasib akan kesendiriannya. Meski bergelimang pengalaman dan prestasi di luar sekolah, kesepian adalah harga yang harus dibayar karena fokusnya pada pengetahuan dan pengalaman. Bukan pada kisah percintaan. Memikirkan pasangan pun tidak. Yang terngiang di otaknya hanyalah ilmu, ilmu, dan ilmu. Mumpung masih sendiri dan tidak ada siapapun, pikirnya kala itu.  Namun karena keberanian dan kenekatannya bak menjadi nahkoda seorang diri di tengah lautan lepas, kadang ia menemui gelombang pasang yang mengguyur ambisi hidupnya. Konon, di tengah lautan itu, sang gadis meratapi nasibnya lagi dan lagi, melepas kemudi kapal, dan duduk di pinggiran kayu pembatas. Sorotan matanya nanar dan dingin ke arah pantulan bayangan pada gelombang air. Sialnya, begitu banyak amukan peristiwa yang perlahan mengguncang keteguhannya untuk tetap sendiri.  Hi...

Postingan Terbaru

Kukira Kau Rumah

Catatan dari Ujung Melangsa

Tidak Semua Pertanyaan Harus Ada Jawabannya Sekarang

Standar Ganda: Luka Sunyi dan Ketidakadilan yang Terlalu Sering Dibebankan pada Perempuan

Justru dengan Berpisah Membuat Anak-anak Merasa Bahagia

Sepi adalah Hal yang Harus ditebus Daripada Bertahan Bersama Seseorang yang Salah.

Closure - There is No Chance to Fix It

Kini Mereka Tahu: Kita Merasakan Hal yang Sama, Bukan?

Day 1: Melawan Sakit. [SPECIAL EDITION]

Surat Intelektual Untuk Anakku, Ken.