Tidak Semua Pertanyaan Harus Ada Jawabannya Sekarang
Malam memberangus kenang yang tak kasat dalam penglihatan. Aku seolah bersemedi di antara kelam dan tumpukan dosa atas pengkhianatan yang tidak direncanakan. Saraf dan karsaku sempat terhenti untuk merasakan tanda-tanda yang diberitahukan oleh semesta. Pikiranku sempat kalap ketika lagi dan lagi aku dibenturkan oleh ketidakpastian. Dan perasaanku berkecamuk tiap pagi menjelang meski tidur sudah cukup. Bagaimana bisa aku, manusia, menakar kepastian dari matriks kehidupan ilahi. Karena Tuhan selalu memiliki rencana yang tidak bisa ditembus oleh nalar manusia.
Bagaimana bisa belakangan ini aku menjauhi diriku sendiri dan justru berenang lebih dalam di kolamnya orang lain, yang kedalamannya tidak kuketahui, yang tingkat kekeruhannya tidak kuketahui penyebab dari kekeruhan itu sendiri. Aku tenggelam dalam sebuah kolam tanda tanya besar yang tak pernah bisa kutemukan jawabannya di artikel manapun, di buku manapun, bahkan ketika aku bertanya kepada kecerdasan buatan pun, ia tak mampu memberikan jawaban yang jelas. Karena jawaban itu ada di dalam diriku sendiri.
Dan meski kemanapun aku pergi bersama diriku sendiri, jawaban itu tak kunjung menghampiri relung batinku, tak kunjung menyelinap masuk ke dalam pikiranku, aku buta akan aksara, dan aku seperti tuli akan pertanda.
Selama 20 tahun aku hidup, jalan kehidupan kadang lurus, kadang berkelok, kadang bercabang-cabang. Kadang membuatku gamang menentukan kemanakah arah yang tepat, jika sudah menentukan arah, masalah berikutnya adalah kembali mempertanyakan keyakinan akan pilihan yang sudah dipilih. Seolah penyesalan sedang menanti di depan sana.
Bahkan di dalam kepalaku, pertanyaan yang sudah menemukan jawabannya bisa menghadirkan pertanyaan lagi. Dan bisa melahirkan jawaban yang berupa pertanyaan lagi. Terkadang aku bertanya, apakah ini siklus yang tidak bisa berhenti? Bahkan sampai detik ini, aku bertanya, jawabannya adalah itu akan tetap menjadi sebuah pertanyaan selagi diriku masih hidup di dunia.
Dan terkadang, aku berpikir, apabila masih memiliki pertanyaan yang belum ditemukan jawabannya, mungkin itulah motivasi hidup kita, itulah Tuhan masih memberikan kita hidup di dunia karena misi kita dalam menemukan jawabannya belum selesai. Bahkan ketika jawabannya ditemukan, bisa jadi itu adalah jawaban pembuka, bukan jawaban utama. Kita menyelesaikan pertanyaan satu, muncul pertanyaan berikutnya. Pertanda bahwa kita diberikan kepekaan dan kesadaran diri untuk bisa mengaktivasi motivasi kita dalam bergulat dengan kehidupan.
Malam ini, kilatan petir menyambar cakrawala yang juga memicu kecemasan di relung hatiku, petir menyambar pikiranku, menciptakan asinkron antara neuron satu dengan neuron lainnya. Aku menurunkan ego, meredakan emosi, untuk bisa menjalin komunikasi dengan bahasa atau kalimat-kalimat yang mampu menemukan titik tengah. Kami bertatapan, tatapannya begitu dalam, mengisyaratkan dia tidak ingin kehilanganku, dia tidak ingin diriku hilang tenggelam dalam pertanyaan yang tidak bisa ia jawab. Atau mungkin lebih tepatnya, belum bisa ia berikan jawabannya sekarang. Dia menggenggam tanganku, kami bersetubuh (bukan dalam makna harfiah) menurut kami, persetubuhan atau bahasa lainnya yaitu bercinta memiliki tingkatan, dan bagi kami tingkatan tertinggi dari bercinta adalah menjalin komunikasi yang penuh sarat ilmu dan berangkat dari pemahaman yang sama kemudian diperkaya oleh pengalaman kami masing-masing. Di situlah puncak orgasme yang diperoleh melalui kata-kata. Tidak selalu tentang bersenggama untuk mencapai puncak cinta.
Kemudian, aku menaruh kepalaku di sebelahnya, menatapnya dalam, dan berharap dalam hati untuk tidak lagi beranjak dan menemukan penggantinya. Dari mulutku, keluar sejumput kalimat, bahwa mungkin pertanyaan yang aku ajukan itu tidak perlu ada jawabannya sekarang. Aku perlu waktu untuk bisa melahirkan kalimat itu dari mulutku. Aku merenung dan bernegosiasi dengan diriku sendiri untuk menenangkan badai di dalam hatiku.
Maka malam ini, aku menutupnya dengan pemahaman ke diri sendiri bahwa tidak semua pertanyaan memiliki jawabannya sekarang, karena itulah aku masih diberikan hidup untuk mengarungi medan-medan kehidupan untuk merajut jawaban yang mungkin diberikan di saat waktu yang tepat, dimana jawaban itu akan muncul ketika aku secara mental sudah siap untuk menerimanya.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar