Kukira Kau Rumah
Desauan angin malam menusuk poriku, merenggut ketenangan yang menjalar hingga berjelaga pada harap yang lenyap. Suatu lagu yang sangat menggambarkan bagaimana aku kehilangan sosok yang kukira akan menjadi rumahku kelak. Tiap nada, tempo, dan lirik sangat menginterpretasikan bagaimana sosok itu sepenuhnya adalah kamu.
Kau datang, tatkala sinar senjaku telah redup.
Kehadiranmu awalnya tidak berbentuk fisik, bukan sebuah pelukan, belaian, sentuhan, atau bahkan.. kecupan. Kehadiranmu ada di ujung kehancuran rumah tanggaku. Berawal urusan kerjaan, kau intens menghubungiku, seolah niat untuk menjalin obrolan denganku. Sempat kutanya mengapa, jawabanmu kau butuh teman untuk menemanimu lemburan, kerja malam. Di sisi lain, hubunganku dengan pasangan kian meredup, rumah tanggaku di ambang kehancuran. Tapi obrolan tiap malam menjadi peluru yang melesat lebih cepat dari kehancuran yang semestinya bisa diperbaiki.
Kian lama, hubunganku tidak lagi berarti. Aku memisahkan diri membawa nyawa yang kukandung sendiri. Mencoba membangun hidup kembali di tempat baru, tempat dimana tidak seorang pun mengenalku. Kau hadir tiap hari, kau terlibat dalam pengasuhan, kau juga melibatkan diri pada obrolan-obrolan anak kecil yang ingin tahu tentang segala. Kau membelai, melindungi, memeluk, memberitahu, terkadang kau menjadi nahkoda yang tahu arah mata angin. Dengan umurmu dua kali lipat lebih tua dariku, pengalamanmu menggempur laksa peristiwa yang tidak seberapa kuarungi di umur dua puluh tiga.
Bulan demi bulan, kau menyemai benih harap, harap yang ku pikir akan terjadi dalam beberapa bulan ke depan atau setidaknya dalam setahun ke depan. Harap yang kian lama menguat, melebar, dan mengakar. Harap akan keutuhan sebuah keluarga baru. Kau kembali melukis persepsi baru dalam hidupku, menghadirkan perasan yang begitu mahal untuk ku ekstrak menjadi sebuah Pelajaran. Bahwasanya, barangkali aku telah menemukan sosok yang seharusnya kujadikan tempat tinggal. Sepaket karakter, sifat, watak, dan perilaku yang seharusnya kupilih untuk menemaniku sepanjang hidup. Kutemui di dirimu. Hari demi hari, kurawat benih harap itu, kuberikan pupuk kasih sayang terbaik. Terkadang, di suatu waktu, kita menciptakan hari dimana rasanya seperti efek ekstaksi. Melayang tanpa terdistorsi. Kita berdua seolah dimabukkan oleh harapan yang melambung jauh ke langit, tentang bagaimana kita berdua pada akhirnya menemukan pasangan yang seharusnya membersamai petualangan kita dalam membentuk diri. Meski di waktu yang salah.
Hingga, gemericik penggalan lirik lagu berikutnya…
Dan pamit ketika purnamaku belum seutuhnya.
Betapa indah membayangkan bagaimana dua atau lima tahun mendatang kehidupan baruku bersamamu. Betapa indah membayangkan bagaimana kemudian aku merasakan bisa menikahi orang yang kubutuhkan, orang yang mungkin bisa kulabeli sebagai “orang yang tepat” atau “he’s the one.” Memutar lagu-lagu yang mengingatkan pada semua tentang kita memberikanku energi dalam menjalani hari, memancarkan rasa bahagia yang murni di dalam hatiku. Yang selama kuhidup, aku baru merasakannya beberapa waktu belakangan ini karena kehadiranmu.
Redup yang pernah menyelimuti hidupku, mimpiku, dan harapanku itu, seolah terhisap oleh pancaran kasihmu, ketulusanmu, dan perilaku konsistenmu dalam mendukungku dari aspek apapun. Kegelapan yang menutupi jalan masa depanku, seolah kau hadirkan cahaya untuk menerangi kemana aku harus melangkah, meski remang-remang. Kesuraman yang kurasa, berubah menjadi kejelasan. Ketakutan yang ku alami, berubah menjadi keberanian dan kenekatan. Aku tidak takut dan cemas untuk mengambil kesempatan apapun selagi ada kamu. Aku seperti berada di permukaan piramida kesuksesan. Kau memenuhi kebutuhan primerku, kau mendukung perkembangan diriku dan mencoba untuk melemparku lebih jauh ke piramida level Self-Actualization konsepnya Maslow, Hierarchy of Needs. Kau memupukku dengan cinta, kau membanjiriku dengan pengetahuan, dan kau menuntunku dengan segudang pengalamanmu.
Hingga rasanya, titik orgasme atau kepuasan kita berdua dalam bercinta bukanlah berhubungan intima tau bersenggama, melainkan berjam-jam kita habiskan untuk menjalin obrolan. Apapun itu, obrolan yang lebih banyak bersifat reflektif. Dimana kamu juga mengerti tiap rangkaian kalimat yang terucap. Kau mengerti makna dari tiap diksi yang kupilih dalam bicara. Aku selalu terpenuhi kebutuhannya untuk mengeluarkan dua puluh ribu kata dalam sehari karena kau menjadi teman ngobrol yang asik.
Bahkan bisa dibilang, waktu yang kita habiskan untuk mengobrol, lebih nikmat dari esensi kenikmatan itu sendiri. Lebih nikmat dari orgasme aktivitas keluar-masuk. Aku menyetubuhi otakmu, dan kau menyetubuhi pikiranku. Kita sama-sama berada di puncak kenikmatan aktivitas pengetahuan dan pengalaman yang dilebur menjadi kenyataan. Kuolah menjadi pembelajaran dan yang paling mewah adalah terlahirlah rasa kekaguman tiap harinya terhadapmu.
Sampai pada di titik pertengahan bulan Juni, aku mulai menyadari sesuatu. Harap yang kusematkan itu tidak akan kunjung menjadi kenyataan. Doa-doa yang kulabuhkan itu hanya bertengger di dermaga sebagai tempat pemberhentian sementara. Bahkan dari mimpi-mimpi yang kualami belakangan ini seolah mengabarkan pesan bahwa aku harus mengakhiri bunga tidur terindahku. Aku harus mengakhiri dan mengubur harapan yang tidak akan mungkin berubah jadi realita. Aku dipaksa keadaan untuk melihat fakta yang telah terjadi, bukan menunggu apa yang ingin kulihat pada akhirnya. Bukan menunggu akan seperti apa pada akhirnya. Dan aku merasa.. meski fisikmu masih berada di sini dan kau selalu mengaku tidak akan pernah meninggalkanku, tapi hati dan pikiranku berkata lain dalam meyakinkan diriku sendiri. Seolah dunia batinmu telah mengirimkan sinyal kepadaku kalau kamu bersiap pergi. Terputuslah emosi yang kurasakan terhadapmu, berubahlah persepsiku terhadapmu, dan berubah juga perasaan ini terhadapmu.
Juni mendorongku untuk merefleksikan cerita singkat kita, bahkan sebelum aku mencapai tingkat tertinggi itu, sebelum kau melihat aku berdiri di panggungku sendiri, tanpa kau sadari, kau sudah berpamitan untuk melepaskanku sendirian mengarungi lautan peristiwa ini lagi.
… dan pamit ketika purnama belum seutuhnya.
Kau yang singgah tapi tak sungguh
Perdebatan mulai sering bermunculan pada setiap interaksi kita. Topik favorit yang selalu menjadi perdebatan adalah ketidakpastian. Baik hubungan, ataupun hal-hal lain yang menurutmu sedang kau usahakan. Muncul ketidakharmonisan antara apa yang kuyakini dengan apa yang kujalani bersamamu. Aku hidup dalam ruang kosong yang tak bermakna. Aku hidup pada dualitas. Antara bersamamu tapi tidak bisa memilikimu, atau aku memiliki fisikmu tapi tidak menjadi pasanganmu. Itulah ruang kosong yang kubenci. Terjebak pada ruangan yang tidak membuatku nyaman.
Dari perdebatan itu, mulai bermunculan pikiran-pikiran negatif terkait identitasku. Bagaimana mungkin aku ingin bahagia bersamamu sedangkan perempuanmu menderita? Bagaimana mungkin aku hidup di dualitas yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya? Tidak pernah kusangka akan menjadi seperti ini?
Mungkin kau pun sudah muak, sudah lelah, dan sudah terlalu penuh untuk menampung keresahanku terhadap ketidakpastian. Waktu yang tidak bisa kau pastikan, status yang tidak bisa kau pastikan. Begitu banyak alasan yang menurutku menjadi alibimu saja. Alasan yang tidak bisa kutelan mentah-mentah. Kau merayuku agar menjadikannya masuk akal. Sedangkan otakku bersikeras untuk menjadikannya tersangka atas kepastian yang kau tunda. Kau tidak bisa mengakhiri hubunganmu dengan perempuanmu sekaligus tidak mau melepasku. Betapa pengecutnya, betapa egois dan serakahnya ternyata lelaki sepertimu. Menginginkan semuanya seolah kau sanggup menuruti kebutuhan semua pihak yang kau inginkan.
Kau hanya menyinggahiku, menelanjangi pikiran, perasaan dan kepribadianku. Meski kau bertopeng lembut dan halus, tapi aslinya kau seperti serigala yang siap menerkam dari dalam. Pada baris ini, keyakinanku adalah kau tak pernah sungguh-sungguh untuk singgah.
Kukira Kau Rumah, Nyatanya Kau Cuma Aku Sewa
Bagaimana bisa aku tak menganggapmu sebagai tempat pulang setelah semua yang terjadi denganku, aku selalu membagikannya kepadamu. Kau merespon sesuai dengan kondisiku saat itu, dan kau menyayangiku dengan sebegitu hebatnya. Menurutku, kau angkuh, kau pikir kau bisa menyediakan diri sepenuhnya sebagai tempat tinggal untukku. Tapi nyatanya, kau hanya kapal dan aku diperlakukan dermaga, bukan tempat tujuan aslimu.
Kau pernah menganalogikan pertemuan dengan seseorang ibaratkan penumpang di dalam angkot yang setiap penumpang memiliki cerita dan perannya masing-masing. Dan mungkin di sinilah titik itu aku harus memahami bahwa peranmu sudah selesai. Aku tidak akan pernah bisa memilikimu. Aku hanya menyewamu beberapa bulan…
Dari tubuh seorang perempuan yang memintamu untuk pulang.
Ada kecemasan yang sangat mencekat tenggorokanku, membuatku kehabisan nafas dan tak sadarkan diri dalam dunia batin yang gelap gulita itu. Sebagai perempuan, aku merasakan hal yang sama bagiamana yang dia rasakan. Aku dililit rasa bersalah tiapkali kau menemani hariku berangsur-angsur. Malam demi malam, kutangkup wajahmu yang terlelap dalam dekapan tatap mataku yang syahdu dan mendalam. Membelai pipimu dan berkata “betapa malangnya diriku hanya mencicipi milik orang lain.”
Nun jauh di sana, ada seorang perempuan yang meraung-raung menanyakan kabarmu, memintamu untuk pulang, seorang perempuan yang mengeluh, berkesah, hingga mungkin merintih kesakitan betapa ia tersiksa kehilangan sosok dirimu. Barangkali dia menyesali ucapannya yang membuatmu benar-benar ingin pergi darinya. Barangkali dia juga menyimpan harap agar kau segera kembali untuk memperbaiki hubunganmu dengannya. Atau barangkali.. dia menangis dan mengutuk perempuan lain yaitu diriku untuk ditimpa kemalangan yang tiada tandingnya karena telah merebut prianya.
Kau bukan rumah
Dan pada akhir penggalan lirik inilah yang menjadi sebuah kesimpulan utama dari cerita singkat kita berdua. Kau bukan rumah. Aku tidak perlu mengulur-ngulur waktu untuk terus membuat diriku buta dalam melihat dan menyadari kenyataan bahwa aku dan kau tidak akan pernah bisa melukis kisah kita berdua. Terlalu banyak pertimbangan dan hal lain yang tidak bisa kau putuskna sendiri untuk bisa memilihku. Meski egoisnya, kau selalu mengucap bahwa kau telah memilihku. Dan diperkuat dengan perilaku konsistenmu, seolah ingin meyakinkan diriku bahwa kau benar-benar memilihku.
Semua persepsi itu, perasaan itu, dan bagaimana aku bersikap kepadamu, runtuh. Bukan dalam semalam, melainkan reruntuhan perasaan ini diakibatkan dari akumulasi emosi yang tidak pernah kau mengerti meski aku telah menjabarkannya secara jelas luka-lukaku atau sikap-sikapmu yang seperti apa yang membuatku merasa terpancing, hingga kolaps lagi. Tapi kau tidak mengerti, entah karena ditutup oleh keegoisanmu, atau memang kau yang takkan pernah menyadari bahwa sebenarnya kau juga mengelabui dirimu seolah kau telah memilih. Padahal, kau tak pernah memilih sampai detik ini. Kau masih menggantungkan aku dan perempuanmu.
Pada baris ini, kutekankan sekaligus menjadi akhir dari semuanya
Bahwa
Kau bukan rumah.

Komentar
Posting Komentar