Melahirkan Duniaku
Namun karena keberanian dan kenekatannya bak menjadi nahkoda seorang diri di tengah lautan lepas, kadang ia menemui gelombang pasang yang mengguyur ambisi hidupnya. Konon, di tengah lautan itu, sang gadis meratapi nasibnya lagi dan lagi, melepas kemudi kapal, dan duduk di pinggiran kayu pembatas. Sorotan matanya nanar dan dingin ke arah pantulan bayangan pada gelombang air. Sialnya, begitu banyak amukan peristiwa yang perlahan mengguncang keteguhannya untuk tetap sendiri.
Hingga akhirnya terucap di dalam hati pada malam yang kelabu itu, pada bulan yang menyinari setengah dirinya, dan beberapa bintang yang menyembul.
“Aku ingin melahirkan duniaku sendiri. Bila tidak ada seorang pun yang bisa diajak berpetualang di dunia yang ciptakan, maka akan kulahirkan nyawa itu dari darang dan dagingku sendiri.” ucapnya penuh gema.
Welcome…
Garis waktu membawaku perlahan-lahan menyusuri lorong ingatan di awal tahun 2022 lalu. Bagaimana patah hati saat itu sangat beringas dan memancing sisiku yang paling nekat untuk melakukan sesuatu. Selain patah hati, tekanan lingkungan dan keluarga juga berkontribusi untuk mengikis semangatku dalam menjalani hidup. Aku mengambil jalan pintas, menatapi langkah ekstrem demi menciptakan duniaku sendiri. Hingga datanglah pertengahan tahun 2022, tepatnya bulan Juli. Ada satu suara yang justru memantapkan langkahku, suara itu datang dari ibuku sendiri. Dia mempertanyakan apakah aku yakin untuk mempertahankan nyawa yang sedang kukandung itu. Aku menjawabnya mantap dan penuh keyakinan untuk melahirkannya ke dunia.
Bulan Oktober, Tuhan mengizinkanku untuk pertama kalinya mempertemukan kami. Air mataku menetes sekaligus menahan rasa sakit pasca operasi. Nyeri yang bukan main dan tiada hentinya. Linangan air mataku menyentuh kulit halus bayi di sampingku, ia merengek pelan. Minta disusui.
Setahun kemudian, aku diizinkan Tuhan untuk bertemu malaikat kecilku yang kedua, begitu pula di tahun berikutnya, malaikat kecilku yang ketiga.
Persetan dengan persiapan menyambut malaikat-malaikat ini. Ya, angkuhku kala itu yang baru kurasakan dampaknya setahun belakangan ini. Siapa yang siap identitasnya berubah menjadi ibu? Apa itu ibu? Bagaimana menjalani perannya? Apa kemampuan dan kapasitas yang harus dimiliki menjadi seorang ibu? Bagaimana mungkin ucapanku sungguh diwujudkan dengan kehadiran tiga malaikat ini, sedangkan kondisi mentalku tidak stabil? Bukankah banyak yang bilang kalau untuk menjadi ibu itu mesti stabil secara mental dan siap secara fisik? Bagaimana mungkin Tuhan dengan penuh kasih dan rahmatnya mengizinkanku, seorang wanita malang yang justru dititipkan sekaligus tiga malaikat?
Kekalutan pikiranku sempat membuatku goyah dan tertekan. Seiring berjalannya waktu menjalani identitas dan peran baru, aku cepat belajar. Aku beradaptasi dengan peran ini. Aku mendorong diriku, memecut diriku supaya lebih keras berlari. Meski tidak ada persiapan, bukan berarti aku tidak siap untuk menjadi seorang ibu. Karena terkadang, rasa kesiapan itu datang ketika kita diuji pada suatu situasi yang menurut kita, kita tidak mungkin bisa. Aku mendobrak keyakinan mayoritas. Aku berkembang, bertumbuh, seiring perkembangan anak-anakku.
Pada suatu waktu, ada peristiwa yang membuatku memilih jalan hidupku yang saat ini kujalani bersama anak-anak. Menjadi orang tua tunggal. Aku berpikir apakah ini pola yang sama kala saat itu di tahun 2019 aku merasakan kesendirian yang menusuk? Tapi setelah beberapa bulan kujalani, aku mulai mengerti, mulai memahami, esensi kesendirian. Lagipula, ucapanku sudah terkabul. Aku dihadirkan nyawa-nyawa yang lahir dari darahku sendiri. Manusia-manusia yang memiliki daya juang sama sepertiku, mewarisi kapasitas dan intelektual yang kuharap melebihi diriku, yang paling penting adalah manusia-manusia ini menjadi ladang kesempatan untukku merubah diri dari bagaimana aku mendidik mereka. Aku menebus semua kenestapaan, keblingsatan, kemurkaan, dan segala yang terburuk pada masa kecilku. Ku ekstraksi elemen-elemen pertumbuhan di dalamnya, kuserap menjadi pembelajaran, dan kutuangkan dengan implementasi parenting terhadap mereka.
Ada kecemasan yang kubenci namun menjadi penggerakku dalam menjaga ritme pengasuhan ini. Kecemasan apakah mereka diberi makan yang bergizi pada saat aku menitipkannya ke orang lain. Atau apakah mereka tetap konsistensi dengan jadwal harian yang sudah dibiasakan sejak dini olehku? Small things, big impact menurutku.
Aku merefleksikan perjalananku sebagai gadis melankolis yang senang meratapi perasaan sendiri, selama 19 tahun aku menyerap sari=sari peristiwa dengan berbagai perasaan di dalamnya. Yang ternyata, semua pengalaman itu menyatu di dalam diriku, menjadi benang-benang berharga yang membekali ku dalam mendidik anak.
Membandingkan adalah konsep dengan area terbatas apabila ada pembandingnya, satu atau dua subjek. Tapi dengan siapa aku layak membandingkan diriku apabila setiap orang memiliki variabel-variabel yang membentuk peristiwa hidup mereka sendiri? Kutepis konsep pembandingan diri itu dan fokus kepada apa yang akan kami (anak-anak dan aku) lakukan.
A million dreams..
Sejak SMA, ada satu keyakinan yang masih bersinggungan dengan apa yang kuucap di tahun 2019 itu. “A million dreams are keeping me awake.” (aka
n kutulis pada bagian khusus di blog ini nanti.) kenapa demikian? Karena ketika aku merasakan tidak ada seorang pun yang memahami bagaimana secara radikal energiku menyemai harap-harap masa depan, maka ciptakanlah duniamu sendiri dengan mimpi sebagai bahan bakarnya. Maknanya adalah karena aku merasa tidak ada seorang pun, bahkan orang tuaku, yang mampu mendukungku, yang mampu melihatku secara personal sebagai pribadi yang cepat belajar dan ambisius, bahkan tanpa arahan dari orang dewasa aku sudah mengetahui akan kemana langkahku ini membawa hidupku.
Kulahirkan mimpi-mimpi itu, yang tetap membuatku ingin melanjutkan hidup. Karena mimpi-mimpi itu adalah bagian dari identitasku, bagian dari hidupku, yang tentu tidak mungkin aku akan mengkhianati diriku sendiri. Tidak mungkin akan meninggalkan diriku sendiri. Itulah esensi keyakinan dari “A million dreams are keeping me awake.”
Dan pada penghujung bagian ini, dunia baruku sudah terlahir. Ketiga nyawa yang menyatu untuk memberikan energiku agar tetap hidup dan tidak melupakan apa yang ingin kuwujudkan.
Aku menyunggingkan senyum, energiku kembali, kami siap menciptakan dunia kami sendiri dengan imajinasi dan mimpi-mimpi yang takkan pernah mengkhianati.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar