Standar Ganda: Luka Sunyi dan Ketidakadilan yang Terlalu Sering Dibebankan pada Perempuan

 

   


Ada ketidakadilan yang tidak selalu meninggalkan memar, tetapi menjejakkan kelelahan yang dalam. Ia tidak selalu hadir dalam bentakan, tidak selalu tampak sebagai kekerasan yang kasat mata, dan sering menyamar sebagai sesuatu yang dianggap "wajar". People called "double standard".

    Ia hidup di rumah-rumah, di percakapan sehari-hari, di komentar keluarga, di nasihat teman, bahkan perlahan masuk ke dalam kepala perempuan yang terlalu lama disalahkan.

    Double standard bekerja diam-diam: ketika perempuan dituntut memikul semuanya, sementara laki-laki diberi toleransi untuk kekurangan yang sama. 


    Ketika Tuntutan Hanya Bergerak ke Satu Arah

    Banyak perempuan diminta menjadi segalanya dalam waktu yang sama. 

    Ia dituntut menjadi ibu yang selalu hadir, sabar, lembut, penuh perhatian, dan selalu tersedia. Di saat yang sama, ketika ekonomi goyah, ia juga diharapkan mampu menghasilkan uang, menyelamatkan keadaan, menutup kekurangan, dan memastikan rumah tangga tetap berjalan. 

    Ia diminta memahami pasangan, menenangkan konflik, menjaga hubungan tetap utuh, dan tetap terlihat baik-baik saja. 

    Namun saat ia bekerja keras mencari nafkah, ia dianggap kurang hadir. 

    Saat ia kelelahan karena memikirkan semuanya sendirian, ia disebut emosional. 

    Saat ia mulai bersuara tentang ketidakadilan, ia dicap telalu menuntut. 

    Saat ia meminta pasangan ikut memikul beban, ia dianggap tidak bisa menghargai laki-laki,

    Tetapi ketika laki-laki tidak hadir secara emosional, lambat bertumbuh, kurang terlibat dalam pengasuhan, atau belum mampu memenuhi tanggung jawab finansial, narasi yang muncul seringkali berbeda: 
- "Dia sudah berusaha"
- "Dia sedang belajar."
- "Namanya juga baru jadi suami dan ayah."
- "Kapasitasnya memang segitu."
- "Kasih waktu, nanti juga berubah."

    Di titik inilah perempuan mulai sadar: standar yang dipakai tidak pernah sama. Kesalahan perempuan dibesar-besarkan, sementara kekurangan laki-laki dinormalisasi. 


    Perempuan Dipaksa Memilih Dua Hal yang Sama Penting    

    Banyak perempuan bukan tidak memprioritaskan anak. Mereka justru sedang berjuang memenuhi kebutuhan anak dengan cara yang tersedia. Saat perempuan bekerja untuk membayar sekolah anak, membeli makanan, membayar kontrakan, memenuhi kebutuhan kesehatan, dan menjaga keberlangsungan hidup keluarga, itu bukan bentuk pengabaian. Itu adalah bentuk tanggung jawab. 

    Mencari nafkah juga bentuk cinta.
    Menyelamatkan kondisi finansial juga bentuk pengasuhan.
    Bertahan hidup juga bentuk perlindungan.

    Namun standar ganda sering memaksa perempuan memilih antara dua hal yang sama penting: hadir dekat dengan anak atau mencari nafkah untuk anak. 

    Apapun pilihannya, ia berisiko disalahkan. 

    Jika bekerja, dianggap terlalu sibuk.
    Jika fokus di rumah, dianggap tidak produktif.
    Jika meminta bantuan, dianggap tidak mampu.
    Jika kuat sendirian, dianggap tidak butuh siapa-siapa.

    Padahal anak tidak hanya membutuhkan pelukan. Anak juga butuh makan, pendidikan, tempat tinggal, kesehatan, dan stabilitas. 

        

    Kesalahan Perempuan Diperbesar, Lelahnya Diabaikan

    Perempuan sering diminta memahami proses laki-laki, tetapi sedikit sekali ruang diberikan untuk memahami lelahnya perempuan. Ia diminta sabar menunggu pasangan bertumbuh, padahal anak tetap butuh makan hari ini. Ia diminta mengerti keterbatasan pasangan, padahal tagihan tetap datang bulan ini. Ia diminta menjaga hubungan tetap utuh, padahal dirinya sendiri sedang runtuh. Mengapa perempuan harus terus memahami, sementara kebutuhan hidup tidak pernah menunggu? 

    Beban Mental yang Jarang Dibicarakan

    Ketidakadilan bukan hanya soal uang atau pembagian tugas. Ada beban yang lebih sunyi: mental load. Perempuan sering menjadi pihak yang terus memikirkan: biaya bulan depan, pendidikan anak, kebutuhan rumah tangga, jadwal keluarga, emosi anggota keluarga, dan solusi saat krisis datang. Ia menjadi pengingat, perencana, penengah, pengasuh, pencari nafkah, manajer krisis, sekaligus penanggung jawab terakhir ketika semuanya berantakan. 
    Ironisnya, kerja mental ini sering tidak terlihat. Karena tidak terlihat, ia dianggap tidak ada. 


    Saat Perempuan Mulai Meragukan Diri Sendiri

    Efek paling berbahay dari double standard ini ketika perempuan mulai mempercayai tuduhan yang tidka adil. Ia bertanya: Apakah aku terlalu keras? Apakah aku kurang bersyukur? Apakah aku kurang menghargai? Apakah aku ibu yang buruk? Apakah semua salahku? 
    Padahal bisa jadi ia bukan gagal, ia hanya terlalu lama memikul beban yang seharusnya dibagi. 
    Ia bukan terlalu keras. Ia hanya terlalu lama kuat sendirian.
    Ia bukan kurang menghargai. Ia hanya lelah menghargai orang yang tidak ikut memikul beban. 
    Ketika seseorang terus memberi sambil terus disalahkan, ia bisa merasa dirinya buruk. Padahal yang sebenarnya terjadi: ia kelelahan.

    Hubungan Sehat Bukan Tentang Siapa Lebih Banyak Mengalah

    Hubungan yang sehat tidak dibangun dari satu pihak yang terus berkorban sementara pihak lain terus dimaklumi. Cinta bukan alasan untuk menghapus tanggung jawab. Niat baik tidak cukup tanpa tindakan nyata. Potensi tidak bisa terus-menerus menggantikan kontribusi. 

    Yang dibutuhkan dalam relasi adalah rasa aman, tanggung jawab bersama, kontribusi nyata, respek timbal balik, ruang bertumbuh bagi kedua pihak, kemmampuan memperbaiki kesalahan, kemauan berubah yang terlihat, bukan yang cuma diucapkan. 

    Jika satu pihak terus berjuang dan pihak lain terus dimaklumi, itu bukan partnership, itu ketimpangan. 

    Sudah Saatnya Narasi Diubah

    Perempuan tidak butuh dipuji karena sanggup menanggung semaunya sendirian. Perempuan butuh sistem yang adil. Bukan perempuan yang harus terus belajar lebih sabar menghadapi ketimpangan. Ketimpangan itulah yang harus dihentikan. Bukan perempuan yang terlalu menuntut jika ia meminta pasangan hadir, bertanggung jawab, dan bisa diandalkan. Itu bukan tuntutan berlebihan. Itu standar minimum yang layak diterima siapa pun. 


    Double standard bertahan karena terlalu sering dianggap normal, terlalu sering diwariskan, dan terlalu sering dibela atas nama kebiasaan. Padahal sesuatu yang sering terjadi belum tentu benar. Dan peremuan yang berkata, "ini tidak adil." bukan sedang merusak hubungan. 

    Ia sedang berusaha menyelamatkan martabatnya.
    Ia sedang menyelamatkan hidupnya. 

 
    

Komentar

Postingan Populer