Catatan dari Ujung Melangsa


     Tengah malam ini aku akan membagikan cerita pengalamanku ketika aku dirawat inap selama kurang lebih 5 hari di sebuah rumah sakit, bukan karena sakit fisik, tapi lebih dalam dari fisik. Ditemani dengan teh tarikku, aku ingin gula memicu daya imaji dan bahasaku. Mari menyusuri lorong waktu perlahan-lahan, meski menuliskannya memaksaku untuk kembali mengingat ulang kejadian saat itu, tapi akan kulakukan. 

Di penghujung tahun, nasibku terhunus harap yang semakin meredup. Aku ingat saat itu seharusnya adalah menjadi hari pertama aku memasuki orientasi perkuliahan. Tapi aku harus mendekam bersama pasien lainnya. Aku tarik mundur lagi sekarang, aku mengingatnya kala itu aku memakai jaket favoritku, jaket formula one. Aku merasa terlalu berat beban hidup belakangan ini. Aku merasa terlalu penuh jiwaku menampung amarah yang sulit diungkap, menanggung frustasi yang begitu besarnya, hingga menyesakkan dan membuat tenggorokanku tercekat. Aku berada di titik antara sadar dan menggila. Dan aku menyadarinya bahwa aku akan memasuki fase itu lagi, fase dimana aku jenuh, bosan, dan frustasi menanggung kesendirian ini. Aku pergi ke Rumah Sakit Jakarta menggunakan taksi online, pergi ke UGD nya yang kudapatkan kukira empati, ternyata kalimat dari ekspresi perawat yang dingin. Sorot matanya tajam memandangku yang sedang kalap, aku memegangi belakang tengkuk leherku yang semakin berat. Sebenarnya ini adalah interpretasi dari apa yang kurasakan jauh di dalam jiwaku. 

Perawat itu bertanya, apa keluhanku, kujelaskan tanpa rinci, dengan segera ia menyuruhku untuk ke RSKD Duren Sawit, karena di sini bukan spesialis permasalahan mental. Aku masih diselimuti emosi, tak karuan. Aku segera memesan taksi online lagi ke titik RSKD Duren Sawit. Setibanya di sana, aku tidak kuat, aku terseok berjalan masuk ke dalam IGD nya. Dicegat oleh dua satpam yang pada akhirnya membantuku mengurusi administrasi. Aku merasakan jiwaku goyah, aku berada di titik nadir. Di titik yang tak bisa kukendalikan, aku butuh bantuan. Aku memberontak dan menyakiti diriku sendiri, pikiranku kalut, membungkus selaput pikiran jernihku. Aku dibawa ke ruang khusus dan dibaringkan di tempat tidur pasien. Emosiku masih belum tenang, aku diselimuti frustasi yang luar biasa hebatnya hingga aku menangis dan rasanya ingin mengakhiri hidup. Dan di sinilah puncak dari segala puncak nestapa yang kurasakan beberapa hari belakangan, kesadaranku terpecah, antara aku yang mengetahui segalanya dengan aku yang menyimpan semua misteri terhadap sisi gelapku. Aku meraung, mengacau, mencekik diriku, hingga sepuluh menit kemudian, beberapa perawat lelaki datang dan mengikatku. Kedua tangan dan kakiku terikat di masing-masing sisi tempat tidur. Berangsur dua jam kondisiku memprihatinkan. Tiga puluh menit sempat sendiri, dua orang perawat pria mendatangiku, menanyakan identitasku dan merogoh mencari dompetku di dalam tas. Mereka menemukan buku kuliahku, Freud dan Jung. Buku yang berbau psikoanalisis dan interpretasi mimpi. Kemudian kedua perawat itu bergumam apakah mungkin aku terlalu banyak melahap buku-buku seperti ini sampai akhirnya aku tidak kuat. Begitulah kira-kira. 

Dua jam kemudian, aku dipindahkan ke ruang isolasi. Ruangan yang tak pernah terpikirkan bahwa aku bisa mendekam di dalamnya. Tidak ada kerabatku satu pun yang datang, bahkan kedua orang tuaku, dan.. suamiku saat itu. Aku sendirian. Aku seperti dienyahkan dunia. Aku dikubur pada ruang yang tak pernah mengerti bagaimana otakku berproses dan bagaimana pikiran-pikiranku terlahir secara radikal. Di ruangan isolasi itu pintunya terbuat dari besi, di tengahnya terdapat kaca yang berukuran segi empat sedang. Terdapat satu kasur pasien, tidak ada sprei dan juga guling. Dan yang paling menyiksa adalah di sisi kiri kasur ada WC jongkok, tidak tersedia air. Tidak tersedia apapun di dalamnya. Ini seperti tempat penyiksaan, pikirku. Aku merengek kepada petugas yang melewati ruanganku untuk membawakanku buku, setidaknya buku bacaan atau buku tulis supaya aku bisa mengorganisir pikiran yang menghampiri. Tapi tidak diberikan, padahal sikapku lembut dan baik, tapi entah mengapa mereka memperlakukanku seperti orang skizophrenia. Membentak dan mengancamku. Tahu apa mereka dengan isu mental, mereka tak lebih dari perawat yang menggeneralisir semua pasien. Mereka tidak tahu apa-apa tentang proses mental seseorang, pikirku kala itu terkesan merendahkan. 

Aku menghabiskan waktu 3 hari di ruang isolasi sendirian itu. Keluar ruangan kalau sedang jadwal makan pagi, siang, dan malam serta aktivitas di sela-sela waktu itu. Ketika malam tiba, aku seperti tersiksa dengan pikiranku sendiri. Hari pertama sangat menyiksaku, hari kedua sedikit mereda, hingga hari ketiga, aku merasa menjadi pengamat atas pikiran dan perasaanku sendiri. Seolah ruangan itu menjadi tempat penyiksaanku untuk merasakan betapa menyakitkan untuk mempercayai pikiranku sendiri yang bersifat destruktif. Meruntuhkan apa yang sudah kuusahakan sejauh ini. 

Keesokan paginya, aku dipindahkan ke ruang lain, terdapat 6 pasien lain di dalamnya, salah satunya adalah seorang pasien yang kusebut saja namanya B. seingatku umurnya pertengahan 40. Perawakan agak tinggi dan berisi. Dia mengidap skizoprenia. Hari-hari yang kujalani sungguh tersiksa sekaligus menjadi tempat dimana aku memperoleh kesadaran dan pengalamanku menjadi seorang pasien. Aktivitas kami tidak begitu padat, makan pagi, makan siang, makan malam ,minum obat, dan senam. Rutin tiap hari. Terkadang aku bertanya-tanya, aku mengira pasien di sini mendapatkan perawatan intensif selain diberikan obat rutin. Tapi tidak juga, psikiater yang mengunjungi tidak sesering yang kubayangkan. Ada tiga momen yang sangat kuingat. 

Pertama, ketika menghabiskan waktu di kamar bersama enam pasien dengan diagnosis berbeda-beda, kuamati mereka dari ranjangku. Aku duduk dan memeluk kedua lututku, sorot mataku cukup dalam dan memperhatikan mereka secara rinci. Cara mereka berkomunikasi, cara mereka berinteraksi satu dengan yang lain. Yang terkadang aku jadi merefleksikan, bukankan kami-kami ini sama dengan orang normal? Bahkan aku jadi berpikir label orang normal dan orang dengan gangguan jiwa berbeda tipis di sini, kabur, bahkan menembus makna sebenarnya. Bedanya, mungkin saja kami lebih berani menunjukkan kepada dunia bagaimana cara berpikir kami. Bagaimana kami merespon tiap peristiwa yang pada akhirnya membentuk narasi tentang diri kami. Sedangkan orang-orang di luar sana, bisa saja memiliki tekanan mental yang sama, tapi tak cukup berani mengabarkan kepada dunia bahwa mereka juga memiliki gangguan. Itulah bentuk pikiranku yang paling ekstrem. Aku melihat cara interaksi mereka genuine , tidak ada penghakiman, tidak ada label apapun, tidak ada kalimat yang menusuk, pembicaraan tulus yang mengalir sebagaimana adanya. Tidak ada unsur bisnis atau sesuatu yang sama-sama ingin merusak. Ada bagian yang sungguh menyentuh, ketika pasien lain memiliki makanan yang berlebihan bekal dari kerabatnya, ia tak sungkan untuk menawarkannya ke pasien lain. Yang ditawari juga senang bukan main. Mereka bercengkrama bak orang normal. 

Kedua, semua pasien bertemu pada tiga waktu utama, yaitu makan pagi dan senam, makan siang, serta makan malam. Di setiap habis makan, kami disuguhkan obat. Awalnya, aku mungkin malu-malu untuk duduk di tempat tertentu. Tapi, aku melihat pasien lain yang duduk tanpa ada rasa sungkan, aku seperti melihat hal yang normal di sini. Aku duduk dimanapun semauku, berbaur dengan siapapun. Tidak ada circle, tidak ada kelompok yang merasa unggul, tidak ada kelompok yang merasa berhak untuk memfilter anggotanya. Semuanya berbaur, semuanya berinteraksi satu sama lain. Suasana makan yang tercipta justru lebih harmonis, sunyi, sepi, tenang, tidak ada pembicaraan yang saling menjatuhkan satu sama lain. Tidak ada pembicaraan diam-diam kepada orang yang tidak disukai. Tidak ada tatapan nanar dan sinis pada suatu kelompok atau suatu individu. Semua sama. Dan ini Pelajaran yang sangat berharga untukku. 

Ketiga, bagaimana interaksi sesame pasien semakin terlihat saat senam. Kala semua pasien duduk dan musik senam masih berputar, ada dua pasien yang secara eksrepsif memperagakan gerakan senam karya mereka sendiri, alias tidak ada pola, tidak beraturan, dan hebatnya, yang aku kagumi, pasien lain tidak menertawakan, tidak menghujat, tidak membisik-bisik dengan rekannya, tidak ada prasangka dan tidak ada anggapan apapun. Mereka beresonansi satu sama lain tanpa perlu menjatuhkan. Aku terduduk di sudut ruangan, menyibakkan rambut dan menyilangkan kaki. Mataku menyapu seluruh ruangan, tidak satu pasien pun luput dari observasiku. Di momen ketiga inilah cahaya kesadaran merasuki relung hatiku, atmosfer ruangan senam itu berubah menjadi pancaran kesadaran akan jiwaku, akan dunia yang kucari, akan tempat yang menerimaku. Tempat dimana tidak ada penghakiman, tidak ada label, tidak ada anggapan, tidak ada prasangka, tempat yang menerima perbedaan orang-orang berpikir, merasa, dan mengekspresikan cakrawala pikirannya. 

Air mataku menetes, sebab aku seperti menemukan dunia yang telah lama kucari. Hari kelimat membuatku semakin terikat dengan tempat ini. Tempat aku berkumpul dengan orang-orang yang menurut mereka di luar sana tidak normal, memiliki gangguan jiwa. Sedangkan menurutku, secara medis mungkin apa yang mereka rasakan diberikan label, diberikan diagnosa. Tapi cara mereka berinteraksi justru lebih tulus dari orang yang melabeli diri mereka normal – kebanyakan. 

Aku termangu, mataku menyorot lantai begitu nanar. Terpejam dan kemudian termenung. Bagaimana mungkin masyarakat mengkonstruksikan definisi “gila” kepada seseorang yang bersikap tidak seperti kebanyakan lainnya. Alias, beberapa orang tidak bersikap sebagaimana orang normal bersikap. Bagaimana mungkin ketika seseorang berbeda dari kelompok mayoritas, sejurus kemudian dengan mudahnya dilabeli “orang gila.” Fras aini sangat fatal untuk dipahami, terlebih jika dijadikan lelucon kepada bocah-bocah untuk menggunakan frasa “orang gila” apabila melihat sesuatu yang berbeda dari mayoritas. 

Karena aku menyaksikan sendiri di ruangan yang penuh dengan pasien dari berbagai diagnose ini, aku melihat sebegitu bervariasinya cara berpikir tiap orang, dan sebegitu rumitnya tingkat kognitif seseorang memproses realitas. 

Hari keenam, aku diperbolehkan pulang. Aku tidak malu pernah dirawat sebagai pasien di RSKD. Justru aku bangga, dengan statusku sebagai mahasiswa psikologi, aku pernah merasakan menjadi pasien sekaligus mengobservasi secara langsung, mengalami secara nyata bagaimana para pasien berinteraksi. Aku melihat bagaimana ketika gejala mereka muncul. Aku memiliki pengalaman yang tidak diperoleh di ruang kelas. Aku mempraktikkan pengetahuanku, memakainya untuk menjadi alat berinteraksi dengan sesama pasien. Aku mampu memahami mereka, dan ini menjadi inventaris pengalaman dan pengetahuanku. 


Komentar

Postingan Populer