Berkali-kali Aku Putus Asa
Sudah cukup lama aku tidak menuangkan cerita-cerita di sini sampai entah harus memulainya darimana.
Siang ini aku terduduk di pinggiran kasur usai mencuci dan menjemur pakaian. Berniat ingin mandi, namun air mataku mengucur deras tidak terbendung lagi.
Berbicara mengenai luka memang tidak ada habisnya. Aku pun lelah jika harus menilik lebih dalam perihal luka yang belum tersembuhkan. Namun kali ini aku ingin pakai kalimat yang lain, "luka yang sedikit demi sedikit mulai pulih." Harapannya dengan pergantian kalimat ini bisa mengubah perspektifku tentang luka yang masih tertanam.
Lukaku berawal dari suatu struktur terkecil dalam kehidupan, keluarga. Dengan majunya teknologi memicu perkembangan informasi yang kian melesat menghadirkan informasi-informasi baru yang selama ini tertanam dalam-dalam. Salah satunya adalah parenting.
Awal mengetahui bahwa luka yang aku rasa berasal dari keluarga, aku sepenuhnya bertindak menyalahkan dan tidak terima. Sekarang, perlahan-lahan itu berubah dan mendidik diriku sendiri untuk menerima keadaan dan memahami kondisi mental mereka yang jauh lebih mengenaskan karena tidak tahu apa-apa.
Aku pernah konseling sebanyak 5 kali di bawah lembaga perempuan dan anak yang terletak di Pulogadung. Sang konselor membantuku memahami alur lukaku tercipta, pola keluarga hingga membantuku untuk memahami orang lain khususnya ayah dan ibuku serta lingkungan terdekatku yang kurang lebih berdampak pada kondisi psikisku di masa sekarang. Pada intinya, konselor memintaku untuk memahami perlahan-lahan kondisi mental orang tuaku yang juga luka.
Kembali di kondisi saat ini, saat aku masih duduk di pinggiran kasur dan tercenung. Kerapkali di suatu kondisi aku bisa memahami betapa dalamnya luka mereka, orang tuaku, hasil dari didikan orang tuanya juga. Aku memahami dan menyelami pikiranku yang berakar pada pemahaman di jaman mereka, informasi susah diakses, ini pun berkaitan dengan kebangkitan kesadaran akan pentingnya mendidik anak dengan ilmu. Sedangkan informasi demikian belum banyak diketahui orang-orang terdahulu. Namun, di satu situasi, kepalaku penuh dengan pernyataan negatif tentang diri sendiri, penuh dengan segala keraguan yang berujung kebencian hingga melukai diri sendiri.
Seringkali ketika mendapat ucapan menyakitkan atau bentakan sedikit dari orang tua, langsung saja dadaku terenyuh dan mulai menangis deras. Lalu terlintas di kepalaku, "aku ini luka karena kalian dan kalian masih melukaiku hingga saat ini, bagaimana bisa aku sedikit demi sedikit memulihkan diri jika terus-menerus disakiti?" Jujur, aku masih belum tahu bagaimana mengganti kalimat itu yang selalu terlintas di kepalaku kerapkali mendapatkan pernyataan yang menyakitkan.
Lahir dari keluarga dengan tingkat perekonomian menengah ke bawah mendorong motivasi yang kuat untuk menciptakan jalan baru mencapai tujuan. Semua harus menopang pada diri sendiri, bayar diri sendiri dan menghidupi diri sendiri. Ibuku seorang tulang punggung, ayahku kerja serabutan yang pendapatannya tidak menentu, di rumah harus menanggung emak (ibu dari ibuku), abangku yang baru saja berhenti bekerja, serta adikku yang baru saja masuk ke sekolah menengah pertama berstatus swasta (yang udah tentu menambah biaya hidup), oh ya, ditambah aku yang sekarang mengandung anak dari lelaki yang tidak bertanggung jawab, saat ini berusia 7 bulan kandungan.
Ada rasa enggan ketika ibuku membiayaiku untuk sementara beberapa bulan ke depan sampai anakku lahir. Tapi aku pun jujur belum bisa berbuat apa-apa. Fisikku gampang lelah.
Tiap hari, aku menyelam lebih dalam ke dalam vibrasi diriku untuk fokus menikmati apa yang terjadi hari ini, mengagendakan hari-hariku agar tidak berjalan tanpa agenda yang tentu membuang waktu. Berharap dari tiap aktivitas sekecil apapun yang aku lakukan menambah gairahku untuk tetap bertahan hidup.
Namun, siang ini tangisanku meledak, aku mendalami perasaanku, memeluk diriku dan mengucapkan kalimat positif yang tentu sulit sekali untuk kuucapkan. Menyebut Asma Allah untuk senantiasa menemani tiap langkah kecilku dan memberikan energi untukku bertahan hidup. Berkali-kali aku putus asa, tapi sebuah keajaiban yang aku rasakan adalah rasa putus asa itu tidak pernah bertahan lama. Ia cepat tergantikan oleh energi yang membuatku ingin terus bergerak meski perlahan-lahan.
Meski berkali-kali putus asa, aku selalu yakin Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya terhanyut dalam gelap terlalu lama. Cahaya dan Anugerah-Nya senantiasa menemani tiap derai air mata dan tetesan peluh.

Komentar
Posting Komentar