When All The Bad Things Happen

Jika gelap dikarenakan tidak
adanya cahaya, maka ketidakbahagiaan dikarenakan tidak adanya rasa senang.
Kalap runyam menyerbak awal Januari lalu, menyibak banyak tahta yang bertengger
pada ujung tirani gadis remaja. Ambang antara muda dan tua, atau muda dan
dewasa. Sunyi kelabu menebas kepalsuan di antara bimbang pada semesta yang
melahirkan banyak bintang, mengabarkan siang bahwa malam telah usai. Kabar itu
tiba penuh duka. Mengakhiri? Bukan jadi pilihan. Saat itu hanya memikirkan
bahwa ini adalah akibat dari sebab yang telah diperbuat. Bukan sebuah kutukan,
bukan juga sebuah takdir. Terkadang takdir juga ikut campur kesoktahuan manusia
itu sendiri, termasuk aku tentunya.
Jika
boleh mengeluh, ini sakit sekali, semakin lama semakin sering rasa sakit
dirasakan, semakin kehilangan akan makna rasa sakit itu sendiri. Begitu pula dengan
sedih, menderita, dan segala macam emosi yang katanya negatif. Padahal emosi
bersifat netral, tergantung dari persepsi kita memandang situasi mengandung
emosi itu seperti apa. Tetapi ya, semakin sering merasakan, semakin kehilangan
makna. Seperti tameng yang ditempa tiada ujung, tiada mereda. Meski Tuhan
selalu punya rencana akan ciptaan-Nya sendiri, masih banyak -termasuk aku- yang
juga sok tahu menciptakan rencana lain yang padahal muaranya tetap kepada
rencana Tuhan. Ingin mengalir, tetapi sekarang waktunya menetes. Ingin berembun,
tetapi sekarang waktunya menguap. Apa yang dipikirkan logika, atau fenomena
semesta baik meliputi alam ataupun sosial berusaha diterjemahkan melalui alur
logika manusia yang melahirkan banyak kontemplasi dunia. Secara spesifik,
kontemplasi akan jati diri sendiri. Mengakui bahwa kita pernah mencapai ini itu,
membanggakan bahwa dulu kita pernah berada di fase ini itu, bahkan bisa sampai
mengelabui diri kita sendiri bahwa ternyata saat itu kita pernah merasakan
gejola emosi yang luar biasa tetapi kita menutupi nya dengan kata baik-baik
saja.
Sekuat
apapun keinginan untuk mencapai tujuan dan mengetahui jalan yang akan ditempuh,
kita juga akan menemui titik lelah sehingga membuat kita terkadang lengah dan
terjatuh ke dalam aliran yang sama. Aliran sungai kehidupan dimana banyak sekali
orang-orang tanpa tujuan yang mengalir bersamanya. Bukan suatu hal yang buruk,
terkadang memang hidup berjalan seperti itu. Jika menggendong tujuan yang jelas
begitu melelahkan, kita pun bisa memilih atau mungkin secara otomatis akan
mengikuti alur yang ada karena saking lelahnya dengan tekanan pada jalan yang
kita pilih untuk menuju tujuan kita.
Adalah
aku yang merasakan bahwa diriku semakin memudar, hingga rasanya seperti menghilang
dari dunia sendiri. Yang tadinya kenyamanan adalah hal utama, sekarang menjadi
hal yang kesekian demi bertahan hidup bersama satu nyawa yang dikandung badan. Tujuan
yang kubuat sendiri menuntunku untuk membuat jalanku sendiri, yang tidak ada
satupun orang lain mampu melewatinya sampai-sampai aku justru tersesat pada
jalan yang kubuat sendiri. Aku menganggap tersesat karena mungkin saat itu
kondisiku sedang putus asa, memikirkan banyak hal negatif yang kemungkinan
terjadi di masa depan, berikut kubawa memori-memori yang lalu untuk kusedakkan
ke dalam pikiran yang penuh dengan pikiran juga. Tumpang tindih. Hingga membuatku
berhenti di tengah jalan. Putar balik adalah hal yang mustahil, karena di
belakang sana sudah sejauh itu. Berhenti berdiam diri juga bukan pilihan yang
bijak, karena jalan ini ibaratkan tanah subur di hutan tropis yang meskipun
sudah ditebang, akan selalu subur melahirkan banyak tumbuhan hingga aku harus
terus bergerak ke depan. Lelah memang. Tapi inilah yang namanya bertanggung
jawab, berkomitmen, berani mengambil resiko, dan keinginan kuat untuk bertahan
dan belajar. Tangisanlah yang mendominasi mesin emosiku sepanjang perjalanan
yang kutempuh. Tangisan itu bukan sekedar tangisan tanpa sebab, ada tangisan
haru, tangisan sedih, tangisan duka, tangisan penyesalan, bahkan tangisan
keputus asaan.
Mungkin
bisa dihitung beberapa kali aku menjatuhkan badan ke dedaunan kering pada
pijakan diriku sekarang, menggigit jari, memegang kepala, dan meneteskan air mata
tentunya. Hal yang paling beresiko untuk menyesatkan perjalanan adalah pikiran
sendiri. Lebih tepatnya adalah pikiran yang tidak bisa dikendalikan, pikiran
yang liar, yang memasukkan bahan apa saja dan menghasilkan produk pikiran
terburuk. Iya, aku sedang menggambarkan bahwa diriku seperti menyusuri jalan
pendakian ke puncak di hutan tetapi yang belum pernah dilewati oleh siapapun,
jalan yang kubuat sendiri. Tiapkali aku berjalan, hanya sekelebat pohon, di
depan sana pun demikian, aku menaruh harap lebih pada diri sendiri bahwa dengan
cepat aku akan menemukan cahaya pelangiku di jalan yang kubuat sendiri.


Komentar
Posting Komentar