When All The Bad Things Happen

 

Mengupload: 3547256 dari 3547256 byte diupload.

                Jika gelap dikarenakan tidak adanya cahaya, maka ketidakbahagiaan dikarenakan tidak adanya rasa senang. Kalap runyam menyerbak awal Januari lalu, menyibak banyak tahta yang bertengger pada ujung tirani gadis remaja. Ambang antara muda dan tua, atau muda dan dewasa. Sunyi kelabu menebas kepalsuan di antara bimbang pada semesta yang melahirkan banyak bintang, mengabarkan siang bahwa malam telah usai. Kabar itu tiba penuh duka. Mengakhiri? Bukan jadi pilihan. Saat itu hanya memikirkan bahwa ini adalah akibat dari sebab yang telah diperbuat. Bukan sebuah kutukan, bukan juga sebuah takdir. Terkadang takdir juga ikut campur kesoktahuan manusia itu sendiri, termasuk aku tentunya.

            Jika boleh mengeluh, ini sakit sekali, semakin lama semakin sering rasa sakit dirasakan, semakin kehilangan akan makna rasa sakit itu sendiri. Begitu pula dengan sedih, menderita, dan segala macam emosi yang katanya negatif. Padahal emosi bersifat netral, tergantung dari persepsi kita memandang situasi mengandung emosi itu seperti apa. Tetapi ya, semakin sering merasakan, semakin kehilangan makna. Seperti tameng yang ditempa tiada ujung, tiada mereda. Meski Tuhan selalu punya rencana akan ciptaan-Nya sendiri, masih banyak -termasuk aku- yang juga sok tahu menciptakan rencana lain yang padahal muaranya tetap kepada rencana Tuhan. Ingin mengalir, tetapi sekarang waktunya menetes. Ingin berembun, tetapi sekarang waktunya menguap. Apa yang dipikirkan logika, atau fenomena semesta baik meliputi alam ataupun sosial berusaha diterjemahkan melalui alur logika manusia yang melahirkan banyak kontemplasi dunia. Secara spesifik, kontemplasi akan jati diri sendiri. Mengakui bahwa kita pernah mencapai ini itu, membanggakan bahwa dulu kita pernah berada di fase ini itu, bahkan bisa sampai mengelabui diri kita sendiri bahwa ternyata saat itu kita pernah merasakan gejola emosi yang luar biasa tetapi kita menutupi nya dengan kata baik-baik saja.

            Sekuat apapun keinginan untuk mencapai tujuan dan mengetahui jalan yang akan ditempuh, kita juga akan menemui titik lelah sehingga membuat kita terkadang lengah dan terjatuh ke dalam aliran yang sama. Aliran sungai kehidupan dimana banyak sekali orang-orang tanpa tujuan yang mengalir bersamanya. Bukan suatu hal yang buruk, terkadang memang hidup berjalan seperti itu. Jika menggendong tujuan yang jelas begitu melelahkan, kita pun bisa memilih atau mungkin secara otomatis akan mengikuti alur yang ada karena saking lelahnya dengan tekanan pada jalan yang kita pilih untuk menuju tujuan kita.

            Adalah aku yang merasakan bahwa diriku semakin memudar, hingga rasanya seperti menghilang dari dunia sendiri. Yang tadinya kenyamanan adalah hal utama, sekarang menjadi hal yang kesekian demi bertahan hidup bersama satu nyawa yang dikandung badan. Tujuan yang kubuat sendiri menuntunku untuk membuat jalanku sendiri, yang tidak ada satupun orang lain mampu melewatinya sampai-sampai aku justru tersesat pada jalan yang kubuat sendiri. Aku menganggap tersesat karena mungkin saat itu kondisiku sedang putus asa, memikirkan banyak hal negatif yang kemungkinan terjadi di masa depan, berikut kubawa memori-memori yang lalu untuk kusedakkan ke dalam pikiran yang penuh dengan pikiran juga. Tumpang tindih. Hingga membuatku berhenti di tengah jalan. Putar balik adalah hal yang mustahil, karena di belakang sana sudah sejauh itu. Berhenti berdiam diri juga bukan pilihan yang bijak, karena jalan ini ibaratkan tanah subur di hutan tropis yang meskipun sudah ditebang, akan selalu subur melahirkan banyak tumbuhan hingga aku harus terus bergerak ke depan. Lelah memang. Tapi inilah yang namanya bertanggung jawab, berkomitmen, berani mengambil resiko, dan keinginan kuat untuk bertahan dan belajar. Tangisanlah yang mendominasi mesin emosiku sepanjang perjalanan yang kutempuh. Tangisan itu bukan sekedar tangisan tanpa sebab, ada tangisan haru, tangisan sedih, tangisan duka, tangisan penyesalan, bahkan tangisan keputus asaan.

            Mungkin bisa dihitung beberapa kali aku menjatuhkan badan ke dedaunan kering pada pijakan diriku sekarang, menggigit jari, memegang kepala, dan meneteskan air mata tentunya. Hal yang paling beresiko untuk menyesatkan perjalanan adalah pikiran sendiri. Lebih tepatnya adalah pikiran yang tidak bisa dikendalikan, pikiran yang liar, yang memasukkan bahan apa saja dan menghasilkan produk pikiran terburuk. Iya, aku sedang menggambarkan bahwa diriku seperti menyusuri jalan pendakian ke puncak di hutan tetapi yang belum pernah dilewati oleh siapapun, jalan yang kubuat sendiri. Tiapkali aku berjalan, hanya sekelebat pohon, di depan sana pun demikian, aku menaruh harap lebih pada diri sendiri bahwa dengan cepat aku akan menemukan cahaya pelangiku di jalan yang kubuat sendiri.

                  Banyak aura keputusasaan tapi tidak sedikit pun aku mengenali kata menyerah atau berhenti di sini saja. Aku, kita semua menyadari sepahit-pahitnya hidup, selalu akan bertemu dengan hal manis. Sepanjang-panjangnya perjalanan selalu menemukan titik untuk istirahat. Dengan demikian, Tuhan selalu menyaksikan apa yang sedang diperbuat hamba-Nya untuk melakoni peran yang Dia berikan. Setidaknya dengan tangisan dan duka yang begitu perih, kita mensyukuri keadaan diciptakan sebagai manusia, berbagai emosi silih berganti, berbagai cara telah ditempuh, hanya untuk bertahan hidup. Kegigihan tidak pernah menghasilkan kekecewaan. Karena meskipun kita terus berjalan pada jalan yang kita buat sendiri, menebas lebatnya pohon untuk melanjutkan perjalanan, kita tidak pernah kehilangan diri kita sendiri ataupun motivasi untuk terus maju. Kita tidak mengenal apa itu menyerah karena kita memang dilahirkan untuk menjadi pemenang, lebih tepatnya seorang pejuang.

Komentar

Postingan Populer