Multiverse: Berkhayal Andai Gue Ada di Semesta Lain!

 

sumber: https://www.livescience.com/how-real-is-the-multiverse

               Bulan ini ada film yang lagi ditunggu-tunggu oleh para pecinta Marvel, apa lagi kalau bukan Dr. Strange: in the Multiverse of  Madness yang tayang pertama kali di layar kaca Indonesia tanggal 05 Mei 2022, hari ini! Seminggu sebelumnya gue merencanakan ingin menonton kesukaan gue ini dengan Si Bocil. Struggle banget, men buat dapet tiket di tanggal pertama tayang itu, pada akhirnya gue dapet di Grand Paragon XXI yang ga jauh dari kosan gue meskipun dapet tempat duduknya 2 paling bawah deket banget sama layar.

            Gue yang baru-baru ini suka sama film superheronya Marvel, ga kecewa sama visualnya sih. Even gak begitu paham dan ngikutin banget soal alurnya, hehe. So far secara visual emang gak pernah kecewa.

            Sepulang dari nonton film Dr. Strange: In the Multiverse of Madness, ada big picture banget yang gue dapet yaitu terkadang kita emang pengen banget buat kabur dari realita, kabur ke dimensi lain. Tapi kenyataannya, itu mustahil dilakuin. Pelarian yang paling mudah adalah dengan tidur, karena kita bisa menenggelamkan diri ke alam mimpi. Pesan gue dapat gak jauh beda dari realitas kehidupan manusia yang penuh dengan kekalutan, penuh dengan keraguan, kepelikan, kesedihan, kemiskinan, kesengsaraaan, hingga mendorong kita untuk berlari, melepaskan diri dari kenyataan yang ada. Selain alur cerita hubungan tiap-tiap tokoh, gue cenderung menjadikannya sebagai bahan refleksi diri. Bahwa pertanyaan, “Are you happy?” gak mudah untuk dijawab bersanding dengan pertanyaan, “how are you?” satu pertanyaan yang ada di film dan satu lagi pertanyaan orang-orang yang sering banget ditanyain ke gue. Jujur, gue pun bingung harus menjawab apa meski pada akhirnya kembali membohongi diri lagi dengna jawaban, “i’m fine kok.” Dibalut dengan senyum palsu yang padahal hati gue meringis, ingin menceritakan semua tapi gak semua kerumitan bisa dipahamin oleh si petanya.

            Multiverse menjadi nyata di dalam sebuah film. Gue pun dibawa mikir, alam semesta ini kan luas, apa iya cuman ada satu kehidupan yaitu di planet bumi aja? Apa mungkin ada kehidupan lain di luar sana? Bukan, bukan alien, sama kaya kita, manusia. Mungkin itu bisa jadi refleksinya diri kita atau mungkin kita yang lain? Terlepas dari keberadaannya ada atau enggak, terkadang konsep multiverse menjadi alat gue untuk menyembuhkan pikiran. Ketika kepedihan datang perlahan, satu per satu, atau mungkin tanpa jeda, gue memilih menjeda diri dari semua distraksi lalu mengumpulkan kepercayaan bahwa di luar sana gue sedang baik-baik aja meskipun di kenyataan sekarang ini gue menderita. Pas gue nonton sama Si Bocil, gue juga berkhayal kalau di semesta lain gue (mungkin aja) berhubungan pasti dengan Si Bocil. Menyadari imajinasi tersebut ketika gue berada di sebelahnya, gue ketawa sendiri, hehe.

            Kalau boleh jujur sih, Si Bocil memicu adanya percikan-percikan rasa yang udah lama redup di dalam hati gue. Tiap ada interaksi fisik, gak ada percikan, malah kalau gue memikirkan sesuatu yang berlebihan, percikan itu muncul, sekilas, beberapa detik doang. Gue iseng nanya pas tadi nonton, gimana perasaan dia ketika gue pegang, gue peluk, jawabannya miris sih, tapi karena gue sebelumnya gak terlalu ngarep, jadi  sakitnya gak begitu kerasa lah. Sedih sih ada, karena dia gak ngerasa apa-apa. Dan gue malah jadi bingung, ini gue pake perasaan atau full logika sih. But well, gue gak mau pusingin soal asmara antara kita berdua. Hal terpenting adalah hari ini gue merasa bahagia, terharu, bersyukur banget bisa ngehabisin malam ini bersama orang yang membuat energi gue terisi.

            And the last, sometimes i hope that i exist in other universe, with him. LOL.


Komentar

Postingan Populer