Mempermudah Kerumitan: Bahasa, Filsafat dan Psikologi.
Adalah
warna yang kerapkali kupadupadanankan menjadi sebuah lukisan atau karya seni
yang dapat dinikmati mata, tetapi apa daya senjata yang kupunya hanyalah
kata-kata yang sudah mati ditelan masa. Adalah kuas yang menjadi alat untuk
menuju keindahan, apalah daya hanya sebuah ketikan yang mampu kulakukan untuk
menciptakan dunia imaji dalam sebuah lautan kata. Aku seperti kesurupan. Kata-kata
yang telah lama tenggelam, menyeruak, menghantam, meledak-ledak di seluruh
ruangan kepalaku, tanpa menyisakan udara sedikit pun. Oh, maaf. Bukan
menyisakan udara, tapi tidak jua menyisakan memori baik yang membahagiakan
ataupun menyedihkan. Aku megap-megap, kata-kata itu menyerbuku saat ku tertatih
berjalan pulang setelah mengisi perut dengan nasi di pinggir jalan. Aku adalah
cerita yang tidak pernah usai. Adalah kalimat yang tidak pernah diakhiri oleh
titik. Adalah lukisan yang tidak dipadankan dengan warna selain hitam dan
putih. Aku bersimbah peluh, merengkuh diri, dan masuk ke dalam ruangan
imajinasi sendiri. Menyatu kepada kerumitan yang nyatanya menyederhanakan. Namun
terlalu banyak opini yang menyebutkan bahwa aku penuh dengan kerumitan. Padahal
di dalam kerumitan ada kemudahan, begitu pun di dalam kemudahan, selalu ada
kerumitan. Selalu ada kemudahan di balik kerumitan, dan kerumitan menjadi rumit
karena hal yang rumit dibuat mudah. Termasuk sekarang ini. Rumit, bukan?
Bagaimana
bisa aku menyederhanakan pikiran jika kenyataan selalu berpihak pada kepahitan,
juga pada kenangan? Mengurai perlahan-lahan hanya membuang waktu sepersekian,
menyulam menjadi pikiran-pikiran filosofis yang reflektif. Menganyam menjadi
gurat-gurat tawa meski berbenang duka.
Masih
nyambung soal gula? Iya, tadi sudah kusebutkan. Biar kuceritakan singkat
tentang gula. Yang membuat rumit menjadi mudah, tetapi kadang kala yang mudah
diperumit. Gula memang candu, meski manis namun sadis, meski nikmat namun
menjerat. Candu yang menurutku lebih berbahaya ketimbang ngobat, lebih
berbahaya ketimbang narkotika manapun. Karena candu ini membuatku kehilangan
logika menuju negeri imajinasi tidak terbatas yang tentu saja bukan fakta meskipun
imajinasi juga berawal dari sebuah kenyataan. Di dalamnya penuh dengan kebahagiaan
tapi terkadang mimpi mengurasnya menjadi penderitaan.
Tiap
malam aku seperti bertenun, menenun pikiran-pikiran yang datang malam itu. Pikiran
sialan. Tanpa diundang saja dia datang. Memang sialan. Pikiran yang datang bukan
sekedar datang, aku tahu. Karena pikiran terbentuk bisa jadi dari pengalaman yang
lalu atau kejadian yang sedang terjadi itulah bagaimana otak merespon. Tergantung
orangnya. Tergantung pengalaman seperti apa yang membawa ia sampai detik ini. Aku
selalu meredam pikiran-pikiran yang menyerbu itu dengan alunan musik piano yang
mendenting lewat kanal YouTube, membawaku perlahan-lahan ke dalam dunia mimpi,
dunia yang dimana aku bisa lebih mengendalikannya ketimbang dunia nyata. Karena
di dalam dunia mimpi, aku merasa semakin jelas, meski dalam mimpi. Aku tidak
ada rasa takut karena aku bisa melawannya dengan kekuatan imajinasi. Apa yang
aku pikirkan akan terjadi saat itu juga, termasuk memikirkan kekuatan-kekuatan
semesta. Mimpiku semakin jelas semenjak ada satu nyawa yang kukandung, semenjak
4 bulan yang lalu. Jadi, meski tertidur lama, aku masih saja kelelahan karena
di dalam mimpi aku seperti bergulat, mengeluarkan energi, menguras emosi, tidak
merasakan kenyamanan. Tiap aku bangun tidur, aku masih saja mengantuk. Kalau begitu
kan, aku jadi jatuh cinta kepada dunia mimpi dan aku jadi ingin terus bermimpi
saja ketimbang harus hidup di dunia nyata. Namun yang unik, terkadang mimpi
bisa menjadi tanda atau peringatan atas peristiwa yang sudah terjadi atau peristiwa
yang akan datang. Kata bapakku, Carl G Jung, mimpi itu sangat kuno. Karena menginterpretasikannya
tidak segampang kau mencari arti mimpimu di Google. Bahasa mimpi bukan
kata-kata ataupun kalimat yang terungkap, melainkan mimpi hadir dengan segerombolan
simbol yang tentu memerlukan pengetahuan mendalam akan pemaknaan di dalam mimpi,
dan ini di bahas tuntas di dalam buku bapakku, Manusia, Mimpi, dan Simbol-simbol.
Iya bapakku, Carl G Jung.
Untuk
mempersingkat kerumitan yang sedang kupermudah ini, aku baru menyadari bahwa
sepulang makan malam ini lalu duduk di depan laptop, ternyata aku masih berada
di alam mimpi, dunia yang penuh dengan imajinasiku, karena meskipun tersadar,
aku seperti masuk ke dalam tabung sesaat dan melupakan peristiwa nyata yang
sedang terjadi.

Komentar
Posting Komentar