Mempermudah Kerumitan: Bahasa, Filsafat dan Psikologi.

             

https://pin.it/4Oe5jI1

                Spontan saja, tulisan kali ini lahir dari gemuruh pikiran yang berbelit, entah kemana arah angin ia pergi yang jelas tujunya bukan ke bumi. Kadangkala ingin mengubah alur kisah semesta, meski memang mustahil dipikirnya. Kadangkala ingin mengubah alur kisah sebagaimana kita bisa mengubah media massa seenaknya. Gula dan manis adalah satu kesatuan, gula sudah tentu manis, tetapi manis belum tentu gula. Ada juga rasa yang ambigu, bermakna dualitas, kehilangan jati dirinya. Manis tapi pahit. Pahit tapi asam. Sebagaimana kisah-kisah yang telah terjadi. Antara gula dan aku. Gula menyengatku begitu istimewa, dengan dayanya, dengan segala kekuatannya, memabukkanku menuju tujuh lapisan bahagia, menenggelamkanku pada asmara berkalut luka. Sesak yang kurasa bukan karena pikiran, bukan juga karena perasaan. Sesak ini disebabkan oleh definisi sebenarnya akan tertekan, yaitu satu nyawa yang sedang dikandung badan. Semakin ke sini, ia semakin membesar dan semakin merampas sebagian tubuhku, tubuh dalamku, juga hampir merampas separuh jiwaku.

            Adalah warna yang kerapkali kupadupadanankan menjadi sebuah lukisan atau karya seni yang dapat dinikmati mata, tetapi apa daya senjata yang kupunya hanyalah kata-kata yang sudah mati ditelan masa. Adalah kuas yang menjadi alat untuk menuju keindahan, apalah daya hanya sebuah ketikan yang mampu kulakukan untuk menciptakan dunia imaji dalam sebuah lautan kata. Aku seperti kesurupan. Kata-kata yang telah lama tenggelam, menyeruak, menghantam, meledak-ledak di seluruh ruangan kepalaku, tanpa menyisakan udara sedikit pun. Oh, maaf. Bukan menyisakan udara, tapi tidak jua menyisakan memori baik yang membahagiakan ataupun menyedihkan. Aku megap-megap, kata-kata itu menyerbuku saat ku tertatih berjalan pulang setelah mengisi perut dengan nasi di pinggir jalan. Aku adalah cerita yang tidak pernah usai. Adalah kalimat yang tidak pernah diakhiri oleh titik. Adalah lukisan yang tidak dipadankan dengan warna selain hitam dan putih. Aku bersimbah peluh, merengkuh diri, dan masuk ke dalam ruangan imajinasi sendiri. Menyatu kepada kerumitan yang nyatanya menyederhanakan. Namun terlalu banyak opini yang menyebutkan bahwa aku penuh dengan kerumitan. Padahal di dalam kerumitan ada kemudahan, begitu pun di dalam kemudahan, selalu ada kerumitan. Selalu ada kemudahan di balik kerumitan, dan kerumitan menjadi rumit karena hal yang rumit dibuat mudah. Termasuk sekarang ini. Rumit, bukan?

            Bagaimana bisa aku menyederhanakan pikiran jika kenyataan selalu berpihak pada kepahitan, juga pada kenangan? Mengurai perlahan-lahan hanya membuang waktu sepersekian, menyulam menjadi pikiran-pikiran filosofis yang reflektif. Menganyam menjadi gurat-gurat tawa meski berbenang duka.

            Masih nyambung soal gula? Iya, tadi sudah kusebutkan. Biar kuceritakan singkat tentang gula. Yang membuat rumit menjadi mudah, tetapi kadang kala yang mudah diperumit. Gula memang candu, meski manis namun sadis, meski nikmat namun menjerat. Candu yang menurutku lebih berbahaya ketimbang ngobat, lebih berbahaya ketimbang narkotika manapun. Karena candu ini membuatku kehilangan logika menuju negeri imajinasi tidak terbatas yang tentu saja bukan fakta meskipun imajinasi juga berawal dari sebuah kenyataan. Di dalamnya penuh dengan kebahagiaan tapi terkadang mimpi mengurasnya menjadi penderitaan.

            Tiap malam aku seperti bertenun, menenun pikiran-pikiran yang datang malam itu. Pikiran sialan. Tanpa diundang saja dia datang. Memang sialan. Pikiran yang datang bukan sekedar datang, aku tahu. Karena pikiran terbentuk bisa jadi dari pengalaman yang lalu atau kejadian yang sedang terjadi itulah bagaimana otak merespon. Tergantung orangnya. Tergantung pengalaman seperti apa yang membawa ia sampai detik ini. Aku selalu meredam pikiran-pikiran yang menyerbu itu dengan alunan musik piano yang mendenting lewat kanal YouTube, membawaku perlahan-lahan ke dalam dunia mimpi, dunia yang dimana aku bisa lebih mengendalikannya ketimbang dunia nyata. Karena di dalam dunia mimpi, aku merasa semakin jelas, meski dalam mimpi. Aku tidak ada rasa takut karena aku bisa melawannya dengan kekuatan imajinasi. Apa yang aku pikirkan akan terjadi saat itu juga, termasuk memikirkan kekuatan-kekuatan semesta. Mimpiku semakin jelas semenjak ada satu nyawa yang kukandung, semenjak 4 bulan yang lalu. Jadi, meski tertidur lama, aku masih saja kelelahan karena di dalam mimpi aku seperti bergulat, mengeluarkan energi, menguras emosi, tidak merasakan kenyamanan. Tiap aku bangun tidur, aku masih saja mengantuk. Kalau begitu kan, aku jadi jatuh cinta kepada dunia mimpi dan aku jadi ingin terus bermimpi saja ketimbang harus hidup di dunia nyata. Namun yang unik, terkadang mimpi bisa menjadi tanda atau peringatan atas peristiwa yang sudah terjadi atau peristiwa yang akan datang. Kata bapakku, Carl G Jung, mimpi itu sangat kuno. Karena menginterpretasikannya tidak segampang kau mencari arti mimpimu di Google. Bahasa mimpi bukan kata-kata ataupun kalimat yang terungkap, melainkan mimpi hadir dengan segerombolan simbol yang tentu memerlukan pengetahuan mendalam akan pemaknaan di dalam mimpi, dan ini di bahas tuntas di dalam buku bapakku, Manusia, Mimpi, dan Simbol-simbol. Iya bapakku, Carl G Jung.

            Untuk mempersingkat kerumitan yang sedang kupermudah ini, aku baru menyadari bahwa sepulang makan malam ini lalu duduk di depan laptop, ternyata aku masih berada di alam mimpi, dunia yang penuh dengan imajinasiku, karena meskipun tersadar, aku seperti masuk ke dalam tabung sesaat dan melupakan peristiwa nyata yang sedang terjadi. 

Komentar

Postingan Populer