Keyakinan Kepada Tuhan

             

https://www.mathabah.org/1947-2/

            Ruangan berhawa kutub mengutuk pemikiran bercabangku. Memaksa memutar semua pertanyaan yang saat ini meragukan. Memaksaku memutar semua keraguan untuk diolah ulang menjadi kepercayaan yang dulu terbenam.

Ini berbicara Tuhan lagi, berbicara keberadaan Tuhan. Sekian lama bergelut dengan retorika di dalam pikiranku, berusaha melawan dan mencoba membunuh rasa penasaran yang berlebihan, sedikit demi sedikit rasa keberadaan Tuhan telah kuhadirkan dalam relung jiwa.

Tuhan, izinkan aku untuk mendekap kasih sayang-Mu lagi. Terimalah aku menjadi hamba-Mu lagi.

Sadar,

Bahwa hal yang berkaitan dengan Tuhan, kalau dimainkan dengan logika tak akan kuat untuk digapai. Sebab kapasitas otak manusia tak kuat untuk bertahan dalam pemikiran. Bertahan dalam jalur tetap atas apa yang diyakinkan justru membuat diri sendiri berperang dengan pemikiran.

Kembali aku berdiri mengenakan kain berselimut peluh putih kesucian. Memadu cinta bersama sang Kuasa di tempat ketenangan jiwa. Getaran hebat menjalar lagi ke hati dan mendidihkan segala pemikiran yang keluar dari batasan. Berdialog bersama Tuhan atas selama ini sikapku yang menembus batas irasional.

Kuresapi

Resapi

Kunikmati gerakan pelan yang menghantarkan kening menuju peraduan. Peraduan yang memecahkan keimanan dan perakalan.

Gadis muda yang gampang berfilosofi mengenai ruang dan waktunya Tuhan sekarang terbang ke alam metamorfosa jiwa. Bertransformasi menjadi gadis yang kenal dan ingin dicintai Tuhan.

Padahal waktu yang dibutuhkan dalam membenci, menyebut Tuhan sebagai ilusi, meratapai keberadaan surgawi hanyalah beberapa hari, bahkan tak sampai sekejap matapun.

Inilah nikmat Tuhan. Sekarang aku percaya. Bahwa Tuhan tak dapat didefiniskan sebagai sesuatu yang abstrak dalam nurani. Tuhan tak dapat sembarang pemikiran mencari tahu lebih dalam dimana tempatnya.

 Aku menyadari bahwa Tuhan bukan sekadar ilusi belaka yang bisa dipatahkan dengan firman-Nya, atas pengikut hawa nafsu dan demi memuaskannya, aku sampai membangkang kepada-Nya.

Mengingkari siapa yang menciptakan otak ini. Otak yang membuatku semakin terus memacu untuk memikirkan suatu masalah yang terus kupertanyakan keraguannya.

Aku sampai mengingkari,

Mengingkari dan melupakan siapa pemilik ilmu di dunia. Bahwasanya semua terjadi bukan secara tiba-tiba dan tanpa alasan bermakna. Aku bertransformasi lagi menjadi wanita yang bertuhan. Setidaknya aku sudah merasakan kehadiran Tuhan di segenap jiwaku.

Aku sampai melupakan

Dzat yang menjadi penguasa alam semesta, makhluk ciptaan-Nya bertasbih kepada Dia. Dia yang keberadaannya tentu ada, namun diperdebatkan oleh kaum pengikut logika. Kaum yang pandai berfilosofi namun ujungnya rugi sendiri.

Tuhan,

Jikalau ada cermin yang dapat melihat seberapa banyak dosa yang ada pada ciptaan-Mu, entah cermin itu akan menampilkan bayanganku saja atau tubuhku seutuhnya. Sebab lumuran dosa telah menenggelamkanku ke jurang kehancuran.

Tuhan,

Aku tak ingin menyalahgunakan tugasku sebagai hamba-Mu yang seharusnya bersimpuh memohon pintu hidayah kepada-Mu.

Tuhanku,

Terimalah aku sebagai hamba-Mu lagi.

 

Komentar

Postingan Populer