Keyakinan Kepada Tuhan
Ruangan berhawa kutub mengutuk pemikiran bercabangku. Memaksa memutar semua pertanyaan yang saat ini meragukan. Memaksaku memutar semua keraguan untuk diolah ulang menjadi kepercayaan yang dulu terbenam.
Ini
berbicara Tuhan lagi, berbicara keberadaan Tuhan. Sekian lama bergelut dengan
retorika di dalam pikiranku, berusaha melawan dan mencoba membunuh rasa
penasaran yang berlebihan, sedikit demi sedikit rasa keberadaan Tuhan telah
kuhadirkan dalam relung jiwa.
Tuhan,
izinkan aku untuk mendekap kasih sayang-Mu lagi. Terimalah aku menjadi hamba-Mu
lagi.
Sadar,
Bahwa
hal yang berkaitan dengan Tuhan, kalau dimainkan dengan logika tak akan kuat
untuk digapai. Sebab kapasitas otak manusia tak kuat untuk bertahan dalam
pemikiran. Bertahan dalam jalur tetap atas apa yang diyakinkan justru membuat
diri sendiri berperang dengan pemikiran.
Kembali
aku berdiri mengenakan kain berselimut peluh putih kesucian. Memadu cinta
bersama sang Kuasa di tempat ketenangan jiwa. Getaran hebat menjalar lagi ke
hati dan mendidihkan segala pemikiran yang keluar dari batasan. Berdialog
bersama Tuhan atas selama ini sikapku yang menembus batas irasional.
Kuresapi
Resapi
Kunikmati
gerakan pelan yang menghantarkan kening menuju peraduan. Peraduan yang
memecahkan keimanan dan perakalan.
Gadis
muda yang gampang berfilosofi mengenai ruang dan waktunya Tuhan sekarang
terbang ke alam metamorfosa jiwa. Bertransformasi menjadi gadis yang kenal dan
ingin dicintai Tuhan.
Padahal
waktu yang dibutuhkan dalam membenci, menyebut Tuhan sebagai ilusi, meratapai
keberadaan surgawi hanyalah beberapa hari, bahkan tak sampai sekejap matapun.
Inilah
nikmat Tuhan. Sekarang aku percaya. Bahwa Tuhan tak dapat didefiniskan sebagai
sesuatu yang abstrak dalam nurani. Tuhan tak dapat sembarang pemikiran mencari
tahu lebih dalam dimana tempatnya.
Aku menyadari bahwa Tuhan bukan sekadar ilusi
belaka yang bisa dipatahkan dengan firman-Nya, atas pengikut hawa nafsu dan
demi memuaskannya, aku sampai membangkang kepada-Nya.
Mengingkari
siapa yang menciptakan otak ini. Otak yang membuatku semakin terus memacu untuk
memikirkan suatu masalah yang terus kupertanyakan keraguannya.
Aku
sampai mengingkari,
Mengingkari
dan melupakan siapa pemilik ilmu di dunia. Bahwasanya semua terjadi bukan
secara tiba-tiba dan tanpa alasan bermakna. Aku bertransformasi lagi menjadi
wanita yang bertuhan. Setidaknya aku sudah merasakan kehadiran Tuhan di segenap
jiwaku.
Aku
sampai melupakan
Dzat
yang menjadi penguasa alam semesta, makhluk ciptaan-Nya bertasbih kepada Dia.
Dia yang keberadaannya tentu ada, namun diperdebatkan oleh kaum pengikut
logika. Kaum yang pandai berfilosofi namun ujungnya rugi sendiri.
Tuhan,
Jikalau
ada cermin yang dapat melihat seberapa banyak dosa yang ada pada ciptaan-Mu, entah
cermin itu akan menampilkan bayanganku saja atau tubuhku seutuhnya. Sebab
lumuran dosa telah menenggelamkanku ke jurang kehancuran.
Tuhan,
Aku
tak ingin menyalahgunakan tugasku sebagai hamba-Mu yang seharusnya bersimpuh
memohon pintu hidayah kepada-Mu.
Tuhanku,
Terimalah
aku sebagai hamba-Mu lagi.


Komentar
Posting Komentar