We Don't Need Waiting Someone To Heal

             


            Terkadang aku bertanya kenapa banyak sekali orang-orang menyebut situasi dimana hidup kita merasa hancur. Yang aku pertanyakan adalah kata ‘hancur’ itu. Meskipun itu hanya kiasan, tapi aku sendiri tidak berani menyebut kata hancur untuk sesuatu yang sedang diperjuangkan. Dalam hal ini, sesuatu yang diperjuangkan itu amat besar dan itu adalah yang utama, hidup. 

Ketimbang aku menggunakan kata ‘hancur’ atau padanan kata yang serupa, aku cenderung melihat situasi dimana hidup banyak didominiasi oleh kepedihan, kekecewaan, luka, dan segala yang berbau lara dengan kata ‘jeda.’ 

Hidup kita terlalu singkat jika disandingkan dengan series Netflix yang per episode nya bekisar 25 - 45 menit. Atau film panjang sekalipun yang durasinya 2 jam atau bisa lebih. Kita dilalui oleh banyak peristiwa, baik menyakitkan ataupun yang membuat hati rasanya bahagia. 

Aku pernah berada di situasi yang rasanya hidupku terjeda di satu masa, tidak berdaya, kehilangan arah, merasa ada yang hilang, dan patah. Tetapi itu belum cukup untuk menggambarkan kehidupan yang ‘hancur’ seperti apa. 

Dengan kalimat sederhana, aku menyulam beberapa kata yang menjadi interpretasi dari apa yang aku rasa. Aku berjalan ke belakang beberapa langkah, menuju lemari kenangan yang menyimpan banyak rasa-rasa duka yang kini telah kupendam jauh. Dan setiap aku mengingatnya, rasanya memang sudah tidak ada, tetapi sangat berbekas dan berdampak pada kehidupan saat ini. 

Saat itu, mencintai adalah pilihanku untuk memulihkan diriku dari segala duka masa lalu yang menerpa, duka keluarga. Aku berpikir dengan memberikan cinta artinya aku mampu untuk mencintai, dan artinya aku punya daya untuk memberikan sesuatu yang ada pada diriku. Namun aku hanya terjebak oleh makna sempit tentang mencintai yang aku ciptakan sendiri. Karena aktivitasku mencintai adalah memusatkan segalanya kepada satu objek, lelaki. Aku terbenam, terkapar, jatuh dan tenggelam. Dalam. Dan lebih dalam. 

Aku menggantungkan hidupku kepada satu objek yang kuciptakan ekspektasiku sendiri terhadapnya. Rasa percaya, sayang, kasih, cinta, rindu, marah, benci, duka, tersembuhkan, kurasakan semuanya saat itu. Sampai ketika semesta berkata lain, semesta menunjukkan kepadaku betapa perihnya berharap kepada manusia dan menjadikan ia sebagai pusat semesta. 

Luruh bergemuruh hatiku melanda, hidup rasanya kacau balau dan tak tentu arah. Mau berputar pun rasanya sudah terlanjur di ujung jalan. Mau melanjutkan namun langkahku sudah dimatikan di tengah jalan. Aku seperti terkapar tak berdaya sendirian di tengah jalan sunyi yang tidak ada jalan ke belakang atau jalan menuju depan. Tidak ada pilihan. Aku menunggu keajaiban untuk datang. Setidaknya menarikku menuju cahaya terang, menyingkirkanku dari jalan panjang pilu.

Lama waktu aku menunggu sampai akhirnya aku menyadari cahaya itu adalah aku sendiri. Orang yang kuharapkan hadir saat itu juga adalah aku sendiri. Keajaiban yang kutunggu-tunggu untuk terjadi adalah aku sendiri. Aku tersadar telah menghabiskan banyak waktu untuk menunggu hal yang belum pasti. Karena sebetulnya aku pun bisa mempercepat keajaiban itu datang dan membawaku ke tempat yang lebih terang. Aku memilih untuk tidak lagi menunggu seseorang untuk menolongku. Karena pada kondisi saat itu, aku berpikir bahwa aku harus ditolong sebab aku sama sekali tidak berdaya. Tapi nyatanya tidak, semesta lagi dan lagi memberi makna melalui peristiwa untukku pelajari bahwa aku perlu mendorong diriku menembus batas yang memang mesti dihancurleburkan demi bertahan hidup dan menjadikanku sosok wanita yang kuat. 

Meski rasanya menyadari diri sendiri bahwa sejauh ini hidup di dalam kekelaman adalah hal yang perlu usaha berkali-kali, aku percaya jika sekuat tenaga menyadarkan diri sendiri itu akan berdampak. Bukan instan yang didapat, tetapi efeknya jauh ke depan. Terpulihkan dalam jangka panjang, bukan saat itu juga tetapi sering ‘error’ di tengah jalan. 

Untuk menyembuhkan diri sendiri tidak perlu menunggu terjadinya peristiwa yang amat melukai atau amat mengecewakan. Tetapi menyembuhkan diri itu perlu dilakukan setiap hari. Karena kita hidup bukan untuk 24 jam, seminggu, sewindu, sebulan, atau setahun. Tidak ada yang tahu tentang umur. Tidak ada yang tahu tentang kematian. Tetapi sejatinya kita adalah manusia. Hidup adalah manusia itu sendiri. Karena kita tidak tahu kapan mati, maka kita terus berupaya untuk mencari, mencipta bahkan membentuk arah yang mungkin sudah kita lupakan atau bahkan arah yang pernah hilang. Itu butuh tenaga. Bukan hanya kesiapan secara fisik, tetapi juga kesiapan secara mental. 

Kita tidak perlu menunggu seseorang untuk memulihkan diri kita yang mungkin banyak sekali luka-luka masa lalu yang masih terpendam, atau luka dalam waktu dekat ini yang masih belum sembuh. Dengan kesadaran diri yang penuh, hati yang lapang, disiplin dan komitmen terhadap apa yang ingin kita bangun, dapat  memulihkan kita perlahan-lahan. 

 

Komentar

Postingan Populer