Rumah Untuk Semua.


Hari ini jalan minggu ketiga pemulihan diri berlangsung. Tangisan masih ada, pilu masih singgah. 

Pada awalnya, takut melangkah dan berkenalan dengan orang baru karena aku merasa tidak nyaman. Merasa terancam dan merasa tidak percaya diri. Tapi setelah apa yang sudah aku bangun, bermodalkan luka dan tangisan, aku membangun diriku layaknya rumah. Bukan rumah perorangan apalagi perkelompok. 

Bedanya, rumah yang aku bangun hampir tiap hari selalu ditingkatkan. Baik itu dari sudut ruangan, maupun perabotan kecil lainnya. 

Aku bisa bilang bahwa rumah yang sedang ku bangun tidak akan pernah selesai. Selalu ada renovasi. Karena rumah itu aku sendiri. Aku tidak menjualnya kepada siapapun sekarang ini. Tidak juga mempromosikannya kepada siapapun. Aku hanya menyediakan rumah ku untuk diriku sendiri dan juga untuk orang-orang yang membutuhkan kenyamanan dan keamanan. 

Meski patah hati pernah mematahkan hidupku juga, segera aku sadari dan meminta pertolongan untuk membantuku bangkit serta berdamai dengan kenyataan, meminta pertolongan agar aku dikuatkan menjalani apa yang sudah menjadi keputusanku dan apa yang menjadi takdirku. 

Aku tidak seberani itu untuk menyediakan diriku kepada orang lain. Setidaknya sebelum detik ini. Aku menciut, menenggelamkan diri pada amarah, kecewa, luka, dan tangisan. Segera aku sadari dan mengambil langkah pertama untuk membangun diriku perlahan-lahan. 

Aku banyak mendapat material dari berbagai sumber. Rumahku terus bertumbuh seiring berprosesnya diriku. Maka setelah kurasa cukup untuk membuat diriku nyaman, aku mengubah persepsi bahwa menyediakan diri untuk orang lain yang sedang berpatah hati, berkeluh kesah, melampiaskan lelah, dan berbagi cerita bisa menjadi obat untukku pulih juga. 

Maka, aku mencobanya dari orang terdekatku. Menyediakan telinga, bahu, jiwa dan raga untuk mereka. Mendengarkan. Aku menggali informasi tentang apa yang mereka rasakan, apa yang mereka jalani, apa yang mereka hadapi, sedang ada cerita apa, perasaan seperti apa yang mereka ingin orang lain tahu. Aku menyingkirkan berbicara mengenai diriku sendiri, menyingkirkan siapa aku dan apa yang sudah aku lakukan dulu, atau apa yang akan aku bawa kepada mereka. Aku tenggelam dan menyentuh relung mereka.

Perlahan-lahan. Sampai kutemui dasarnya. 

Tentu saja tidak semuanya berbondong-bondong ingin masuk ke dalam rumahku. Satu per satu orang menjejaki rumahku. Aku sang pemilik rumah juga memiliki aturan di rumah ini. 

Aturan yang paling penting adalah tidak ada yang boleh menetap di sini. Ini hanya rumah singgah. Aturan berikutnya, datanglah ketika memang butuh, tapi tidak juga pergi ketika sudah sembuh. Dan yang terakhir, rumah ini bukan hak milik. Tidak ada yang berhak mengklaim sebagai miliknya selain pemilik rumah itu sendiri, yaitu aku. 

Aku menyediakan diriku sepenuhnya memosisikan diri sebagai manusia, yang bisa berempati, bersimpati, dan berinteraksi. Ada batasan yang kubuat agar mereka yang datang kepadaku tidak semena-mena dan tidak menyentuh perasaanku terkhusus lawan jenis karena aku tidak bertujuan ke sana. 

Selama ini, aku baru merasakan betapa damainya, leganya, tenangnya memiliki banyak orang yang singgah ke dalam rumah sendiri. Meski mereka datang ketika sedih, lelah, putus asa, aku senang karena aku bisa merasakan dan mereka tidak jatuh sejatuh-jatuhnya. Aku juga merasa dijenguk.

Dan nilai yang kupegang, aku tidak perlu bergantung kepada mereka. Aku mengandalkan diriku sendiri, fokus terhadap apa yang bisa kuperbaiki agar mereka bisa kembali untuk berbagi lagi. 


Komentar

Postingan Populer