Puitis dan Rasional : Peleburan Gaya Bahasa Andrea Hirata dan Dee Lestari

 



    Siapa yang tidak kenal kedua tokoh di atas? Keduanya penulis tersohor di Indonesia dengan karyanya masing-masing. Tidak ada siapa yang lebih keren atau siapa yang lebih terkenal, karena keduanya mampu menempati hati para pembaca setia karya-karyanya. 
       
       ------------------------------

       Mengawali petualangan gue dalam kolam aksara, gue nyemplung ke karyanya Dee Lestari yang berjudul 'Rectoverso', kumpulan cerita pendek yang dikemas secara apik, ringkas, dan mengalir. Debutnya dalam dunia kepenulisan sudah tidak diragukan. Meskipun belum membaca semua karyanya, gue merasakan tiap kalimat terasa hidup dan meresap ke dalam otak gue sehingga gue diperkaya oleh kosakata yang baru gue temukan di dalam karyanya. Karya yang pernah gue baca beberapa di antaranya adalah Rectoverso, Filosofi Kopi, Perahu Kertas, dan Madre. dari keempat karyanya yang gue baca, serapan kata-kata menari di dalam kepala gue. Meledak-ledak ingin segera dikeluarkan dalam bentuk tulisan versi gue sendiri. Yap, baru membaca beberapa kalimat yang ditulis oleh Dee Lestari, otak gue merangsang menggapai kata-kata yang nampaknya ingin segera dirangkai menjadi sebuah karya tulis. Bahasa yang diungkapkan Dee adalah bahasa hati, dengan cita karsanya menghadirkan renjana bagi siapapun yang membacanya. Di beberapa kalimat ditemukan kosakata yang masih jarang digunakan di dalam sebuah novel. Meskipun demikian, bagi gue, Dee punya cara yang lebih apik dan original dalam mengemas setiap karyanya, diksi yang disajikan tidak terlalu banyak namun mampu menjadikan tiap kalimat seperti air terjun. Mengalir dan juga dapat dicerna. Tulisan Dee kaya akan filosofi dibandingkan diksi pilihan. Di sini, pembaca, khususnya gue diajak berenang ke dalam kolam filsafat.
 
        Agaknya, yang gue sebut di atas tadi mengenai filsafat terdengar terlalu berat karena paradigma mengenai filsafat yang sangat melibatkan otak. Namun Dee, lagi dan lagi mengemasnya dengan cara memukau. Seperti yang gue bilang, bahasa Dee adalah bahasa hati tetapi bukan berarti hanya mengedepankan unsur perasaan. Ia memolesnya dengan unsur-unsur filosofi yang terkandung dalam tiap kalimat. Bagi gue, di sini ada keseimbangan dalam membaca, yaitu menyentuh hati dan merangsang pikiran. Hal tersebut (sebenarnya) merangsang sel-sel lain untuk segera menyapu kolam kosakata agar kita temukan dan kita mainkan dalam tulisan kita. Tidak heran jika di dalam karya-karya Dee mengandung sedikit banyaknya petuah yang disampaikan, baik secara spiritual ataupun tidak.

        Lain halnya dengan Andrea Hirata, novelis yang telah melahirkan banyak novel-novel best seller memperkaya karya-karyanya dengan ilmu pengetahuan. Tak heran kalau Andrea Hirata sendiri mengakui bahwa dirinya lebih senang disebut sebagai akademisi ketimbang novelis. Namun bagi gue, di sinilah kelebihan dari sosok Andrea Hirata. Bahasa yang digunakan memang mendekati bahasa untuk karya ilmiah, namun masih dapat dijangkau oleh pembaca. Andrea tidak boros kata, dari gaya bahasanya kita dapat mengikuti pola pikir Andrea dari satu novel ke novel lain. Selain itu, Andrea Hirata juga sering memainkan diksi-diksi pilihan. Dari sini pembaca disuguhkan diksi versi Andrea Hirata untuk masuk ke dalam pembendaharaan kosakata kita. 

        Seperti yang telah gue sebutkan kalau Andrea Hirata lebih senang disebut sebagai akademisi, kalau gue perhatikan struktur kepenulisan novelnya dalam novel 'Edensor', memang ada bau-bau cara nulisnya dengan penulisan karya ilmiah. Sebab yang gue perhatikan, dari mozaik 1 yang mengisahkan pertemuan Ikal dengan Weh yang mendapatkan rasa mencintai kehidupannya sendiri dari seseorang yang membenci hidupnya, bersambung ke mozaik 2 yang lebih menjabarkan tentang kata yang dituliskan terakhir dalam kalimat penutup bab. Gue sangat menyukai cara berpikir Andrea Hirata yang menyusun alur seperti cara dia menuliskan karya ilmiah. Bisa dibilang Edensor yang gue baca adalah karya ilmiah dibalut pengalaman ketimbang sebuah novel. 

        Gue tidak berpihak ke siapapun karena tujuan gue menuliskan blog ini bukan menghasut untuk menyukai salah satu di antara keduanya. Karena jika bisa digabungkan cara pandang kedua tokoh tersebut, kenapa tidak? Keduanya saling melengkapi dan saling mengisi dunia kepenulisan. Dan untuk gue, keduanya adalah panutan gue dalam menulis sehingga gue meleburkan gaya bahasa antara Dee Lestari dan Andrea Hirata. 

            Berikut contoh peleburan gaya bahasa Dee Lestari dan Andrea Hirata di salah satu postingan instagram gue: 
         atau selengkapnya, kalian bisa mengunjungi instagram gue dengan mengklik link berikut 
                    https://www.instagram.com/arrayyao/

        Terakhir, untuk mendapatkan rasa ketika sedang menulis, bagi gue adalah sering-sering banyakin referensi apapun itu. Ga perlu mendalami ke berbagai bidang tapi kalau ada hal yang memantik lo untuk mengetahui hal yang ingin lo ketahui, itu bisa jadi inventaris lo ke depannya. Meskipun kita sering berkilah bahwa untuk apa semua pelajaran kita pelajarin dari SD sampai SMA, ternyata manfaatnya emang kerasa banget buat membentuk pola pikir. Emang bukan tentang seberapa pentingnya menjelaskan secara terperinci yang pernah kita pelajari, tapi bagaimana kita menerapkan itu dalam kehidupan sehari-hari. Menerapkan cara berpikirnya, bukan isi berpikirnya. 

    Sekian dari gue, terima kasih udah mampir di blog gue dan gue sangat sayang kalian yang sampe sekarang masih setia baca blog gue. see you!

jangan lupa untuk mampir di blog gue yang lain.

Komentar

Postingan Populer