Life is Like A Game - Point of View



  I don't know where to start, because life is full with mystery. There's so many definition about life, depending on who runs it. 

 Jika ingin membandingkan, tentu saja saya belum berada di titik seperti mereka yang sudah bergelimang pengalaman. Bagiku, sekalipun aku mendapatkan pengalaman yang begitu banyak, tetap saja saya mesti terus belajar untuk memahami arti kehidupan versiku sendiri. 

 Untuk mencapai tahap dimana seseorang rela melepaskan sesuatu yang memang tidak ditakdirkan untuknya, tahap dimana seseorang dapat melihat secara keseluruhan ketika ada masalah yang menimpanya, untuk dapat berpikir secara luas ketika luka terus-terusan hadir, butuh waktu yang sangat panjang. Teori tentang hidup lebih mudah dibandingkan prakteknya. 

 Dalam bukunya, Reza A Watimena berkata bahwa kita bukanlah pikiran dan perasaan kita, ia mengandaikan bahwa apa yang kita rasa dan kita pikirkan seperti awan yang berada di langit. Diri kita adalah jelmaan langit, sedangkan pikiran dan perasaan kita adalah awan yang silih berganti. Kadang ada dimana satu hari itu terlihat cerah, ada kalanya satu hari itu dipenuhi awan mendung dan berakhir dengan hujan. Jika kita mengandaikan diri kita sebagai mikrokosmos, saya setuju dengan argumen di atas. Diri kita adalah langit, lebih tepatnya semesta. Esensi semesta yang luas ini diintepretasikan dengan kehadiran kita sebagai manusia. 

 Jika langit terkadang dipenuhi dengan awan yang cerah, begitupun dengan kita yang pernah merasakan satu hari penuh dengan kebahagiaan, namun tidak heran jika esoknya seolah hari bahagia selama sehari penuh itu merasa direnggut oleh sesuatu. Langit pun demikian, tapi tidak pernah merasakan awan cerah itu direnggut oleh sesuatu, karena langit hanya menerima apa yang terjadi sesuai kehendak-Nya, jika sepanjang hari itu cerah, maka sehari itu bisa membawa kebahagiaan untuk sebagian orang namun barangkali justru membawakan kesedihan untuk sebagian orang. Sekalipun awan mendung menyelimuti, itu pun tidak masalah. Walaupun pada akhirnya hujan, itu pun bukan suatu hal yang besar. Karena hujan pun turun untuk menyuburkan apa yang tertanam di dalam bumi. 

 Kesedihan dalam diri kita, tangisan yang kita rasakan adalah sesuatu yang akan menumbuhkan nilai-nilai yang telah kita tanam dalam diri kita sendiri, Menyuburkan sesuatu yang tidak kita duga, merangsang kepekaan kita terhadap manusia untuk mempedulikan manusia lainnya, dan memulihkan apa yang selama ini menyakiti kita. Tangisan tidak selamanya buruk, menangis itu berhak, bahkan bagi saya wajib. Karena entah berapa banyak hal yang membebani tiap harinya kita tahan di dalam hati, menangis adalah salah satu jalan efektif untuk mengeluarkan apa yang kita tahan. Karena terkadang, luka yang begitu menyakitkan sulit untuk diterjemahkan dengan bahasa, dan air mata adalah bahasa yang terdalam. 


 And, Life is Like A Game

 Untuk menjadi ahli dalam sebuah permainan perlu latihan berulang kali, atau setidaknya melakukan hal -hal yang berkaitan dengan sesuatu berulang kali, bukan hanya melakukan repetisi, melainkan perlu dikembangkan agar bisa menjadi profesional. 

 Hidup sangat lucu jika kita memandangnya dari kacamata para pengamat. Apakah kita bisa mengamati kehidupan kita sendiri? Termasuk apa yang kita pikirkan dan apa yang kita rasakan? Tentu saja bisa, dan ini membutuhkan latihan keras untuk mencapai tahap tersebut. Perlu kesabaran yang ekstra dan perlu ketersediaan untuk menikmati luka yang hinggap. Karena mempraktekan sesuatu yang kita ketahui lebih sulit untuk mempelajari sesuatu yang memberikan perubahan dalam hidup kita. Sulit karena tidak semua orang memiliki keinginan untuk terluka. Padahal banyak hasil bentukan manusia di luar sana yang tumbuh dan berkembang dari pengalaman pahit, pengalaman-pengalaman penuh dengan tangisan. 

 Selagi umur masih ada, saya pun berharap untuk diri saya sendiri untuk tidak takut mencemplungkan diri ke pengalaman-pengalaman yang terlihat sangat menyedihkan, pengalaman yang akan membentuk jati diri dan memperkuat karakter saya. Begitupun saya harapkan untuk para pembaca setia blog saya. 

 Saya menyukai kalimat Andrea Hirata yang tertoreh di bukunya 'Edensor', ia berkata ingin merasakan seluruh pengalaman hidup yang belum pernah dia rasakan. Saya setuju, karena di hidup ini tidak hanya disediakan satu atau dua perasaan.kondisi. 

 And yup, life is like a game, we never know how it ends, but we have  the option to carve out a beautiful finish.



Arrayya. 

Komentar

Postingan Populer