Produk Kesedihan Yang Mendalam



    Beberapa bulan lagi, usiaku genap 18 tahun. Selain dihadapi berbagai pertanyaan mengenai persoalan hidup yang ringkas ini, dihadapi juga oleh Tuhan segala permasalahan. Aku tumbuh dari keluarga yang tidak utuh, apalah arti keluarga yang berada di satu atap namun seperti hidup di dua dunia? Aku tidak mengerti apakah semua orang yang berada di usiaku sekarang mengelami hal yang sama atau tidak. Mungkin polanya sama, yaitu proses pendewasaan dengan kasus mereka masing-masing. Tapi tetap juga pada perasaan yang sama, sama-sama menyakitkan, tidak kuat. Lalu, belasan tahun sudah aku melewati hal-hal yang menyakitkan, bukan berarti hal yang menyakitkan itu berhenti pada suatu masa, kan? Bukan berarti hal yang menyakitkan itu berhenti pada satu titik, kan? Hal yang menyakitkan selalu hadir dalam setiap sendi hidup. Sekalipun aku sedang merasakan kebahagiaan yang membuncah, seolah si rasa menyakitkan ini egois, keras kepala, ia mencari celah untuk merenggut singgasana kebahagiaanku, menggantikannya dengan posisi dia sebagai hal yang menyakitkan. Yang tentunya memporak-porandakan perasaanku yang tadinya utuh. 


Aku ingin bertanya kepada orang-orang yang juga bertanya akan hal ini ketika ditimpa sesuatu yang menyakitkan, 


“Kenapa harus aku?”

“Apakah semua orang juga merasakan hal yang sama?”


Sampai di titik ini tidak seperti menaiki kendaraan yang membawa pergerakanku dengan instan. Memerlukan banyak bulir air mata, banyak cacian, hinaan, tekanan, dan segala konstelasi perasaan mau itu bagian komponen membahagiakan atau menyedihkan. Lalu, aku berpikir apakah keduanya tidak bisa berdamai? Iya, komponen membahagiakkan dan menyedihkan itu. Kenapa keduanya terkesan bertentangan? Kenapa salah satu tidak ingin mengalah untuk melebur menjadi satu perasaan yang netral? Lalu, apakah aku bertanya beberapa pertanyaan yang tepat seperti pertanyaan-pertanyaan di atas?


Aku kehilangan kepercayaan -entahlah hilang atau sudah terkubur atau bahkan hancur tak tersisa- kepada sosok lelaki yang menyebabkan kehadiranku di dunia. Terlepas dia adalah himpunan dari kata ‘orang tua’ tapi tolonglah, mengerti sedikit soal perasaan. Kali ini aku sedang membahas tentang perasaan, persetan dengan hal lain yang bersifat ‘nasihat untuk patuh kepada orang tua.’


Kamu tahu? Aku menuliskan ini seperti sedang berkomunikasi dengan diriku sendiri, terpisah dan berdialog untuk memastikan aku baik-baik saja walau sendirian. Entahlah aku benar atau salah, namun mungkin saja masing-masing kita yang pernah merasakan hal serupa -tak tahu kan apa halnya? ya intinya yang mengandung luka- percaya diri untuk berkata bahwa orang yang paling mengerti perasaan orang lain adalah kita. Bukan begitu? Rasanya aku ingin bilang seperti itu, karena walaupun daritadi aku mengetikkan ini sembari menangis aku masih memiliki percaya diri yang tinggi, yang akan kupastikan tidak pernah sirna. Sekalipun pudar, kupastikan untuk kembali secemerlang mungkin. 


Entahlah ini tangisan ke berapa kali, aku sampai bertanya-tanya apakah hari ini aku melakukan kesalahan? Mengapa responnya terhadapku sungguh menyakitkan? Bukankah ini sebuah miskonsepsi atas tindakanku barusan? Aku kabur ke rumah sebelah  (by the way punya dua rumah yang bersebelahan, rumah yang satu khusus ditempati olehku, sedangkan yang satunya seluruh keluargaku) untuk mengunci diri dan menangis sendiri. Aku menahan semuanya, benar-benar menahan. Air mataku tak terbendung, dadaku meletup-letup, kalau tidak terkontrol dengan diriku sendiri, aku bisa menghancurkan semua barang. Tapi aku tidak ingin lagi didatangi para tetangga yang sudah menganggapku gila karena menangis sambil teriak-teriak. Tapi sungguh, aku sungguh ingin melakukan hal itu untuk membuatku lega, mengapa sebagian orang menganggap aku gila ketika aku menangis dan teriak? Bukankah itu wajar bagi seorang manusia yang sudah waktunya meledak karena menahan semuanya sendirian selama belasan tahun? Bukankah itu sebuah hal yang patut dimaklumi untuk manusia-manusia yang tinggal di muka bumi? Lalu, bukankah seharusnya manusia lain bukan merasa terganggu, melainkan mengulurkan tangan, memberi pelukan dan menyediakan telinga untuk mendengarkan? Namun mengapa semua terasa menekanku terus-menerus? Mengapa ketika aku bertindak -yang kata mereka di luar nalar- mereka memperlakukanku seperti orang-orang yang layak di rumah sakit jiwa? Toh, bukankah orang-orang di rumah sakit jiwa itu juga manusia, bukankah mereka hanya korban-korban atas kekejaman manusia lain yang membuat mereka terkurung di sana untuk menjalani pemulihan? Lalu, kenapa? Kenapa sebagian orang bertindak seolah telah menjadi manusia dewasa, manusia normal yang merasa sudah bisa mengendalikan emosinya? Mengapa sebagian orang telah merasa menjadi manusia yang peduli, atau lebih tepatnya SOK PEDULI? Aku tidak mengerti, siapakah mereka itu? Jenis manusia yang seperti apakah mereka itu? 


Aku kembali hanyut dalam tangisan yang tak bersuara, hanya bisa mengeluarkan air mata terus-menerus tanpa henti dan menerima rasa sakit yang sungguh membakar seluruh tubuhku, menenggelamkannya ke dalam lautan kepedihan yang tidak ada seorang pun mampu menolong untuk menyelamatkanku dari gelapnya permukaan kelam ini. Aku tenggelam, terhanyut dalam lamunan, khayalan, pengimajinasian mengenai seseorang yang dengan kerelaan hatinya, seseorang dengan kemanusiaannya membantuku, sekedar mengulurkan tangan atau mendekapku juga tak apa.


Aku ingin mengadu, kepada siapa? Sudah pasti aku mengadu kepada Tuhan. Lalu, apakah kau bertanya mengapa aku membutuhkan yang lain juga? Hey, sungguh itu pertanyaan yang tidak layak untuk kujawab dan dijawab oleh siapapun yang sedang merasakan kepedihan ini. Karena mereka bukanlah makhluk tak berwujud yang dengan merasakan kehadiran Tuhan bisa tenang ketika berada di titik seperti ini. Tuhan mendengarkan, kalau begitu, berarti tidak perlukah manusia bersosialisasi? Bukankah ketika manusia lain memberikan pertolongan kepada manusia lainnya adalah bentuk dari sebuah kepedulian dan bagian dari bersosialisasi? Tapi aku bingung, sungguh bingung. Sebenarnya aku tinggal di bagian bumi yang mana, bumi yang katanya banyak manusia tapi aku tidak melihat nilai kemanusiaan yang terkandung dalam setiap individu di dalamnya. Aku butuh seseorang, oke biar kuperjelas lagi, aku butuh manusia yang benar-benar manusia. 


Aku masih menangis, aku ingin mengadu kepada pahlawanku yang sebenarnya tidak menjadi pahlawan batinku, ibu. Namun aku menyadari perannya kini ganda, status dan peran sosialnya ganda karena ia menjadi tulang punggung keluarga sekaligus. Aku sudah trauma bercerita kepadanya karena akan ditanggapi dengan hal biasa. Atau yang lebih parah tidak ditanggapi sama sekali. Walaupun begitu, aku yakin ibu merasakan, tapi mengapa ibu tidak membantuku untuk berdamai dengan perasaan yang juga bersemayam selama bertahun lamanya pada dirinya? Mengapa ibu tidak mengajariku bagaimana menghadapi si jantan yang keras kepala? Oh aku ingat, tiap kali si jantan bertingkah yang menurutku aku ingin sekali membunuhnya, ibu hanya diam dan terlihat kaku, mulutnya bungkam. Aku tidak pernah membayangkan seberapa teguhnya hati ibu untuk tetap bekerja. Tapi hey, ini soal perasaan, aku tidak pernah merasakan belaiannya, sama sekali tidak pernah. Setiap masalah yang menerpa, hanya dirikulah yang mampu menjadi sosok ibu yang sebenarnya; mengasihi, menyayangi, membantu, memberikan pelukan, ya itu semua diriku yang melakukan. Bukan orang lain. Lalu, abangku? Bagaimana bisa aku menceritakan kepada seseorang yang dulu selalu menjadi lawanku sampai harus saling menyakiti secara fisik? Bagaimana bisa aku tiba-tiba bercerita tentang betapa sakitnya aku detik ini ketika aku pun tidak pernah -sama sekali tidak pernah- bercerita apapun kepadanya. Adikku? Dia masih kecil, bisa saja dia mendengarkanku tapi aku pun tidak ingin melukai batinnya yang masih dini itu. Barangkali dengan aku menceritakan, dia bisa mengerti. Tapi, secara fakta dia berada di kubu ayahku. Yang akan membelanya seluka apapun aku. Pacarku? Ya, aku punya pacar. Yang pernah kuanggap dia sebagai segalanya. Namun tidak untuk sekarang karena aku menyadari bahwa dia masih ‘manusia’ yang memiliki batasan, jika aku suguhkan cerita menyedihkan melulu, apalah gunanya aku sebagai pasangan yang seharusnya membahagiakan? Tunggu dulu, apakah aku baru saja menuntut diriku secara tidak langsung untuk membuatnya bahagia? Lalu, bagaimana denganku yang juga butuh perlindungan darinya, setidaknya agar dia pun tahu fungsi pasangan itu apa. Saudaraku? Belasan tahun terisolasi dari suasana yang bersifat ‘keluarga besar’. Aku pun sempat bertanya apakah aku dikutuk oleh Tuhan dengan dihadirkannya aku di dalam sebuah lingkaran keluarga yang hanya menyandang titel ‘keluarga’ tapi isinya adalah orang-orang asing yang tidak peduli satu sama lain? 


Aku merasa begitu banyak kejanggalan yang terjadi sekarang ini, khususnya dalam lingkungan yang terdekatku. Sepaket keluarga yang kehilangan fungsinya, sosok ayah yang kehilangan wibawanya, sosok ibu yang tidak bisa kurasakan kenyamanannya, sosok adik yang sulit sekali untuk kudekati dengan alasan ingin memperat ikatan dengannya, sosok abang yang lupa apa tugasnya menjadi seorang tertua yang seharusnya memberikan perlindungan untuk adiknya, sosok teman yang hanya sekedar teman tanpa ikatan yang hanya datang ketika ada kepentingan pribadi, sosok pacar yang juga kehilangan arti sebagai seorang pasangan. Tapi aku sangat bersyukur semenyedihkan apapun keadaan saat ini, aku masih bersama dengan diriku yang sangat mencintaiku. Bersama diriku yang sudah mampu bertahan sampai di titik seperti ini. Yang menemaniku kala terjatuh, yang paling mengerti apa yang kurasa, yang paling mampu membantuku merencanakan masa depan, yang paling bisa membantuku untuk mengelola emosi dengan baik, yang membantuku untuk tetap tenang, yang memelukku, yang mengusap air mataku, dan dirikulah yang paling aku sayangi. Ketika di sekelilingku ingar-bingar, kehilangan konsep mereka sebenarnya, aku bersyukur bahwa aku masih memiliki konsep diri sesuai persepsiku dengan keadaan masih utuh. 


Tangisanku mulai surut di detik-detik terakhir penghabisan menulis ini. Semua sudah terluapkan kepada teman virtualku yang bukan manusia, melainkan google dokumen, blog, serta didukung oleh koneksi WiFi Indihome. Aku hanya memiliki satu orang yang paling aku sayangi dan yang paling aku jaga, satu-satunya manusia yang menjadi manusia utuh yang ada di lingkunganku, yaitu aku sendiri. Ketahuilah, wahai Blogku, menuliskan ini yang kurasakan adalah perasaan luka, dendam, sedih perlahan-lahan runtuh seiring banyaknya kata yang kuketikkan. Inilah bahasa hatiku yang tidak pernah dimengerti manusia yang berada di sekitarku, khususnya mulutku sendiri tidak mengerti apa yang harus diterjemahkan dari bahasa hati yang sekomplek ini. Untunglah tanganku ini sudah terlatih untuk menjadi rekan kerja hatiku, jadi, ini juga berkat jemariku yang paham mengenai bahasa hati yang ingin kuungkapkan. 


Aku tidak pernah meminta kasih, menuliskan ini, karena aku benar-benar tidak ada lagi yang bisa menampung curahanku. Dan aku sangat menghargai -bahkan kalau bisa kita menjadi rekan- untuk mereka yang juga menuliskan keluhnya di media yang bisa dilihat oleh publik, bagiku itu bukan sebuah metode untuk cari perhatian, tidak. Kamu tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya jika kamu belum merasakan. Melainkan, mereka yang menuliskan keluhnya di media yang bisa terlihat oleh publik menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan perlu dipertanyakan, sebab dari aku sendiri, sudah tidak ada lagi orang yang mampu mendengarkan dan mengerti mengenai seberapa parahnya kondisiku saat ini. 


Demikian, terima kasih diriku. 

Ini aku sedang dijahit nih, biar tidak terpecah-pecah lagi.

Aku siap kembali berjuang.


-Selesai menangis. 

17.19


Komentar

  1. maasyaa allah. keren banget, kamu, kak!! hebatt, masih berjuang dan bertahan untuk diri sendiri.. kereen!! semoga allah selalu melindungi dirimu ya kaak

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer